Dengan kehendak dan ilmu-Nya, Allah menciptakan manusia berbeda-beda. Berbeda bahasa, warna kulit, suku bangsa, corak budaya dan sebagainya. Namun Allah mempersatukan mereka semua di dalam agama-Nya yang satu, ISLAM. Allah berfirman, “Sesungguhnya agama (yang diredhai) di sisi Alloh adalah Islam.” (QS. Ali Imran: 19)
Namun dengan kehendak dan hikmah-Nya pula, Allah telah mentakdirkan umat Islam ini berpecah-belah sebagaimana umat terdahulu (ahlul kitab) telah berpecah-belah. Allah berfirman, “Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka sentiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. dan untuk Itulah Allah menciptakan mereka.” (QS. Hud: 118-119). Manusia sentiasa berselisih pendapat. Lalu apakah setiap perselisihan pendapat itu dilarang? Apakah setiap perbedaan pendapat akan membawa kepada perpecahan? Ulasan berikut ini, kiranya dapat memberikan sedikit gambaran.
Ikhtilaf Tidak Sama Dengan Iftiraq
Dari segi lafaz, ikhtilaf (perbedaan) lebih umum daripada iftiraq (perpecahan). Ini hendaknya difahami terlebih dahulu. Oleh karena itu, tidak semua perbedaan merupakan perpecahan. Karena ada perbedaan yang diperbolehkan dan ada yang tidak boleh berbeda. Adapun perpecahan sama sekali dilarang meskipun merupakan sunnatullah. Allah berfirman, “Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan, tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (QS. Ar Rum: 31-32)
Ikhtilaf yang diperbolehkan itu berasal dari ijtihad dan niat yang baik. Yaitu berniat sungguh-sungguh mencari kebenaran. Jika pendapatnya benar maka mendapat dua pahala. Jika ternyata salah, maka tetap mendapatkan satu pahala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika seorang hakim memutuskan suatu hukum, kemudian berijtihad maka jika benar ia mendapat dua pahala. Namun jika salah, baginya satu pahala.” (HR. Al Bukhari). Sementara iftiraq tidak berasal dari kesungguhan dalam mencari kebenaran (bahkan sebaliknya ‘pembenaran’), tetapi muncul dari dorongan hawa nafsu.
Kemudian, ikhtilaf/khilafiyah itu berasal dari konsekuensi memahami dalil-dalil yang kesemuanya merupakan sunnah. Sebagaimana yang dikatakan oleh seorang ulamak, “Orang yang menyelisihi pendapat kami karena konsekuensi dalil yang ia fahami, pada hakikatnya tidak berselisih dengan kami. Bahkan bersepakat dengan kami. Karena kamipun menyelisihi mereka karena konsekuensi dalil yang kami fahami.” (Al Khilaf bainal Ulama). Sedangkan iftiroq itu berasal dari bid’ah (lawan sunnah). Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahulloh berkata, “Bid’ah itu disertai dengan perpecahan, sedangkan sunnah disertai dengan persatuan.” (Sittu Durar, Abdul Malik Ramadhani).
Perpecahan tidak terlepas dari ancaman dan siksa serta kebinasaan. Allah berfirman, “Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka Itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.” (QS. Ali Imran: 105). Tidak demikian halnya dengan ikhtilaf walau bagaimanapun bentuk ikhtilaf yang terjadi di antara kaum muslimin. Baik akibat perbedaan dalam masalah-masalah ijtihadiyah, atau akibat mengambil pendapat keliru yang masih boleh ditoleransi, atau memilih pendapat yang salah karena ketidaktahuannya terhadap dalil-dalil sementara belum sampai penjelasan kepadanya, atau karena dipaksa memilih pendapat yang salah (tekanan penguasa), atau akibat kesalahan takwil/tafsir. Contoh: Perselisihan antara Ali bin Abi Thalib dan Mu’awiyah bin Abi Sufyan -radhiyallahu ‘anhuma-. Mereka berselisih karena perbedaan ijtihad. Mereka layak untuk berijtihad, karena mereka adalah para mujtahid dari kalangan sahabat Nabi -generasi terbaik umat ini-. Kalaupun di antara mereka ternyata ijtihadnya keliru, maka pihak yang ijtihadnya keliru tidak boleh dicela. Sebagaimana dijelaskan para ulama, Ali bin Abi Thalib memandang bahwa bai’ah terhadap khalifah yang baru lebih diutamakan daripada menyelesaikan kes pembunuhan ‘Usman bin ‘Affan -radhiyallahu ‘anhu-. Adapun Mu’awiyah bin Abi Sufyan berpendapat bahwa ked pembunuhan ‘Usman harus diselesaikan terlebih dahulu sebelum berbai’ah kepada khalifah yang baru. Walau akhirnya mereka saling berperang, namun tidak ada seorang ulama pun setelahnya yang mencela salah satu dari dua pihak yang bertikai. (Meluruskan Sejarah Islam, Muhammad Mahzum).
Kebenaran Hanya Satu
Allah berfirman, “Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya Parti Allah itu adalah golongan yang beruntung.” (QS. Al Mujadilah: 22). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketahuilah, bahwasanya umat sebelum kalian dari ahlul kitab telah berpecah-belah menjadi 72 golongan. Dan sungguh umat ini akan berpecah-belah menjadi 73 golongan; 72 golongan (terancam) di neraka, 1 golongan masuk syurga. Golongan itu adalah Al Jama’ah.” (HR. Ahmad, dihasankan oleh Al Hafiz). Dalam riwayat yang lain, “Semuanya di neraka kecuali satu golongan! iaitu golongan yang aku dan sahabatku berada di atasnya.” (HR. At Tirmidzi, ). Imam As Syathibi berkata, “Sabda Rasulullah ‘…..kecuali satu golongan..’ telah menjelaskan dengan sendirinya bahwa kebenaran itu hanya satu, tidak berbilang. Seandainya kebenaran itu bermacam-macam, maka tentunya Rosul tidak akan mengatakan ‘…..kecuali satu golongan..’.”
Ibnu Baththah rahimahullah mengatakan, “Generasi pertama (dari umat ini) seluruhnya sentiasa berada di atas jalan yang satu, di atas kata hati yang satu, dan mazhab yang satu (sama). Al Qur’an adalah pegangan mereka. Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah imam mereka. Mereka tidak menggunakan berbagai pendapat dan tidak pula bersandar pada hawa nafsu. Mereka senantiasa berada dalam keadaan seperti itu.” (Sittu Durar)
Adapun hadits “Perbedaan di kalangan umatku adalah rahmat” adalah bukan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana dijelaskan Ibnu Hazm rahimahullah, “Ini merupakan perkataan yang paling rosak. Karena jika perbedaan adalah rahmat tentunya persatuan merupakan hal yang dibenci. Ini jelas bukan perkataan seorang muslim. Karena kemungkinan hanya dua, bersatu maka dirahmati Allah atau berselisih sehingga Allah murka.” (Al Ihkam fi Ushulil Ahkam). Syaikh Albani rahimahullah berkata, “Hadits ini tidak ada asalnya .” (Silsilah Hadis-hadis Lemah dan Palsu). Bahkan hadis shahih menyatakan sebaliknya, perselisihan itu malapetaka (keburukan). Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Sesungguhnya perselisihan itu buruk.” (Shohih, HR. Abu Daud)
Menghindari Perpecahan
Allh melarang perpecahan walaupun perpecahan itu sendiri merupakan kehendak-Nya. Maka oleh sebab itulah Allah memberikan jalan keluar dari perpecahan. Allah memerintahkan supaya berpegang teguh kepada jalan-Nya, yaitu jalan golongan yang selamat (firqah najiyah) atau kelompok yang mendapat pertolongan (thaifah manshurah).
Dari Ibnu Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat garis lurus dengan tangannya sambil bersabda, ‘Ini jalan Allah yang lurus.’ Kemudian beliau membuat garis-garis di sebelah kanan dan kiri (garis lurus tersebut) sambil mengatakan, ‘Ini jalan-jalan (menyimpang). Tidaklah setiap jalan melainkan di dalamnya ada syaitan yang menyeru/mengajak ke jalan itu.’ Kemudian beliau membaca firman Alloh, ‘Dan sesungguhnya ini adalah jalan-Ku yang lurus maka ikutilah dia. Dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (lain yang menyimpang), yang memecah-belah kalian dari jalan-Nya. Demikianlah Dia mewasiatkan kepada kalian, mudah-mudahan kalian bertaqwa’.” (Shahih, HR. Ahmad dan An Nasa’i)
Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Wajib atas kalian untuk mengikuti sunnahku dan sunnah para khulafa’ur rasyidin yang mendapat petunjuk. Berpegang teguhlah kepadanya dan gigitlah erat-erat dengan gigi gerahammu.” (HR. An Nasai dan At Tirmidzi, hasan shahih)
Macam-Macam Ikhtilaf
Perpecahan hanya terjadi pada permasalahan prinsip, yaitu masalah ushuluddin (dasar agama) yang ditetapkan oleh nash yang qath’i (jelas dan tegas), ijma’ atau sesuatu yang telah disepakati sebagai manhaj (metodologi beragama) Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang tidak boleh diperselisihkan. Siapa saja yang menyelisihi masalah di atas, maka ia termasuk orang yang berpecah atau keluar dari Al-Jama’ah (kelompok Rasulullah dan sahabatnya). Adapun selain itu, masih tergolong perkara ikhtilaf. Para ulama membagi ikhtilaf menjadi 2, yaitu:
1. Ikhtilaf/khilafiyah yang diperbolehkan.
Yang termasuk ikhtilaf jenis ini adalah setiap permasalahan dalam agama ini yang diperselisihkan sejak dahulu oleh para ulama mujtahid dari kalangan sahabat Nabi, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in, serta para imam ahlul hadits dan imam kaum muslimin. Sehingga dengan demikian, seorang muslim tidak boleh sembarangan dan semberono mengatakan bahwa suatu perkara agama merupakan perkara khilafiyah. Hendaknya melihat kepada para imam terdahulu (baca: assalafus shalih), apakah mereka berbeda pendapat di dalamnya atau tidak. Contoh: perbedaan pendapat tentang teknik turun ketika hendak sujud dalam shalat. Apakah tangan atau lutut terlebih dahulu? Ada ulama yang berpendapat tangan dulu baru lutut, ada juga yang sebaliknya. Kedua-duanya berdasarkan dalil yang shahih. Maka ini termasuk perbedaan-perbedaan yang dapat diperbolehkan.
Termasuk juga ikhtilaf jenis ini adalah ikhtilaf tanawwu’. Yaitu perbedaan yang sifatnya pelbagai. Terkadang Nabi shallallohu ‘alaihi wa sallam melakukan yang satu, terkadang melakukan yang lain. Pada hakikatnya ini bukan ikhtilaf, namun ini merupakan sunnah. Contohnya: perbedaan bacaan do’a iftitah. Terkadang Nabi membaca dengan satu jenis bacaan, terkadang membaca dengan bacaan yang lain. Demikian pula dengan bacaan tasyahud, jumlah takbir jenazah, takbir solat ‘id, dan lain-lain. Sehingga apabila seorang muslim dengan muslim lainnya bertengkar hanya gara-gara masalah seperti ini (ikhtilaf tanawwu’), lalu satu sama lain saling melancarkan aksi tahzir (peringatan) dan hajr (penmboikotan) maka inilah yang disebut dengan ta’ashub (fanatik) dan ini terlarang.
2. Ikhtilaf yang tercela.
Yang termasuk ikhtilaf jenis ini adalah setiap ikhtilaf yang dapat membawa kepada perpecahan dan permusuhan serta kebencian. Ini semua dilarang oleh syari’at. Misal: perbedaan pandangan yang taksub pada diri sendiri atau yang menyanggah keputusan syura sehingga berlakunya perpecahan dalaman. Ini adalah tercela. Ini adalah kerana pandangan seseorang ahli jamaah tidak boleh megatasi keputusan jamaah secara kolektif.
Adab-Adab Khilafiyah
Yang menjadi hujjah dalam berbeda pendapat adalah Al Qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman As Salafus Shalih, bukan pendapat imam fulan atau syeikh fulan. Allah berfirman, “Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya).” (QS. An Nisa’: 59). Dalam hal ini Syaikhul Islam rahimahullah berkata, “Tidak boleh bagi seseorang untuk berhujjah dengan ucapan seseorang dalam masalah khilafiyah. Pengutamaan suatu pendapat atas pendapat yang lain bukan karena pendapat itu pendapat imam fulan atau syeikh fulan. Akan tetapi karena ketegasan dan kejelasan dalil-dalil yang mendasari pendapat tersebut.” (Majmu’ Fatawa).
Siapapun yang berbeda pendapat harus menyadari bahwa tidak ada manusia yang ma’shum (terbebas dari kesalahan) kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Imam Malik rahimahullah berkata, “Setiap orang dapat diterima atau ditolak perkataannya, kecuali penghuni kubur ini (yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam).” Maka tidak layak seorang muslim memaksakan pendapatnya kepada saudaranya yang lain dalam hal-hal fiqhiyyah yang berada dalam ruang lingkup ijtihadiyah. Adapun untuk masalah-masalah fiqh yang tidak menerima ijtihad (yang sudah jelas hukumnya), seperti haramnya babi, khamr, bolehnya poligami, wajibnya menutup aurat dan lain-lain, maka tidak boleh berbeda pendapat.
Tidak boleh berdalil dengan pertikaian yang terjadi di kalangan sahabat Nabi sebagai usaha untuk tetap mempertahankan perbedaan dan perselisihan. Lihatlah kapasitas mereka! Mereka adalah mujtahid mutlak umat ini. Bandingkan dengan kaum muslimin sekarang! Jangankan untuk memahami sebab-sebab perselisihan di kalangan ulamak, tergerak hatinya untuk belajar agama pun tidak ada. Apakah keadaan ini boleh dianalogikan dengan mereka para sahabat Nabi?!
Tidak harus bagi seorang muslim menuduh saudaranya telah keluar dari Al Jama’ah (Golongan Rasulullah dan para sahabatnya) hanya karena berbeda pendapat dalam masalah ijtihadiyah. Hendaklah dia menahan dirinya dengan tidak memaksakan pendapatnya kepada orang lain (lebih-lebih kepada orang awam yang baru belajar agama) yang ia temui untuk bersikap terhadap saudaranya yang berbeda pendapat dengannya. Jika orang tersebut tidak mau menunjukkan sikapnya secara jelas, maka diapun dianggap masuk ke dalam kelompok lawannya.
Catatan:
Sesungguhnya perselisihan itu (pada asalnya) adalah tercela. Wajib bagi kita semua berusaha sebisa mungkin menghindari perselisihan. Karena perselisihan menyebabkan umat ini lemah. Sebagaimana Allah berfirman, “Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al Anfal: 46)
Perbedaan yang dilarang adalah perbedaan atau perselisihan yang membawa kepada perpecahan. Maka perlu diwaspadai sebab-sebab perpecahan umat ini antara lain: Kebid’ahan(dalam keyakinan, perkataan atau perbuatan), memperturutkan hawa nafsu (syahwat), fanatisme buta (ta’ashub), meniru-niru orang kafir(tasyabbuh) dan kejahilan beragama (tidak mau belajar). Wallohu a’lam.
Friday, October 23, 2009
Sunday, September 27, 2009
60 Pintu Pahala dan Pelebur Dosa
Di sini disampaikan beberapa amalan yang dapat melebur dosa dan membawa pahala yang besar, yang kesemuanya bersumber dari hadist-hadist yang shahih. Kita bermohon kepada Allah yang Maha Hidup, yang tiada Tuhan yang haq selain Dia, untuk menerima segala amalan kita. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
1. TAUBAT
"Barangsiapa yang bertaubat sebelum matahari terbit dari barat, niscaya Allah akan mengampuninya" HR. Muslim, No. 2703.
"Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla menerima taubat seorang hamba selama ruh belum sampai ketenggorokan".
2. KELUAR UNTUK MENUNTUT ILMU
"Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, nescaya Allah memudahkan baginya dengan (ilmu) itu jalan menuju surga" HR. Muslim, No. 2699.
3. SENANTIASA MENGINGAT ALLAH
"Inginkah kalian aku tunjukkan kepada amalan-amalan yang terbaik, tersuci disisi Allah, tertinggi dalam tingkatan darjat, lebih utama daripada mendermakan emas dan perak, dan lebih baik daripada menghadapi musuh lalu kalian tebas batang lehernya, dan merekapun menebas batang leher kalian. Mereka berkata: "Tentu", lalu beliau bersabda: (( Zikir kepada Allah Ta`ala ))" HR. At Turmidzi, No. 3347.
4. BERBUAT YANG MA`RUF DAN MENUNJUKKAN JALAN KEBAIKAN
"Setiap yang ma`ruf adalah shadaqah, dan orang yang menunjukkan jalan kepada kebaikan (akan mendapat pahala) seperti pelakunya" HR. Bukhari, Juz. X/ No. 374 dan Muslim, No. 1005.
5. BERDA`WAH KEPADA ALLAH
"Barangsiapa yang mengajak (seseorang) kepada petunjuk (kebaikan), maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun" HR. Muslim, No. 2674.
6. MENGAJAK YANG MA`RUF DAN MENCEGAH YANG MUNGKAR.
"Barangsiapa diantara kalian melihat suatu kemungkaran, maka hendaklah ia mengubah kemungkaran itu dengan tangannya, jika ia tidak mampu maka dengan lisannya, jika ia tidak mampu (pula) maka dengan hatinya dan itu adalah selemah-lemahnya iman" HR. Muslim, No. 804.
7. MEMBACA AL QUR`AN
"Bacalah Al Qur`an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat untuk memberikan syafa`at kepada pembacanya" HR. Muslim, No. 49.
8. MEMPELAJARI AL QUR`AN DAN MENGAJARKANNYA
"Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al Qur`an dan mengajarkannya" HR. Bukhari, Juz. IX/No. 66.
9. MENYEBARKAN SALAM
"Kalian tidak akan masuk surga sehingga beriman, dan tidaklah kalian beriman (sempurna) sehingga berkasih sayang. Maukah aku tunjukan suatu amalan yang jika kalian lakukan akan menumbuhkan kasih sayang di antara kalian? (yaitu) sebarkanlah salam" HR. Muslim, No.54.
10. MENCINTAI KARENA ALLAH
"Sesungguhnya Allah Ta`ala berfirman pada hari kiamat: ((Di manakah orang-orang yang mencintai karena keagungan-Ku? Hari ini Aku akan menaunginya dalam naungan-Ku, pada hari yang tiada naungan selain naungan-Ku))" HR. Muslim, No. 2566.
11. MENZIARAHI ORANG SAKIT
"Tiada seorang muslim pun menziarahi orang muslim yang sedang sakit pada pagi hari kecuali ada 70.000 malaikat bershalawat kepadanya hingga sore hari, dan apabila ia menjenguk pada petang harinya mereka akan shalawat kepadanya hingga pagi hari, dan akan diberikan kepadanya sebuah taman di surga" HR. Tirmidzi, No. 969.
12. MEMBANTU MELUNASI HUTANG
"Barangsiapa meringankan beban orang yang dalam kesulitan maka Allah akan meringankan bebannya di dunia dan di akhirat" HR. Muslim, No.2699.
13. MENUTUP AIB ORANG LAIN
"Tidaklah seorang hamba menutup aib hamba yang lain di dunia kecuali Allah akan menutupi aibnya di hari kiamat" HR. Muslim, No. 2590.
14. MENYAMBUNG TALI SILATURAHMI
"Silaturahmi itu tergantung di `Arsy seraya berkata: "Barangsiapa yang menyambungku maka Allah akan menyambung hubungan dengannya, dan barangsiapa yang memutuskanku maka Allah akan memutuskan hubungan dengannya"
HR. Bukhari, Juz. X/No. 423 dan HR. Muslim, No. 2555.
15. BERAKHLAK YANG BAIK
"Rasulullah SAW ditanya tentang apa yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam surga, maka beliau menjawab: "Bertakwa kepada Allah dan berbudi pekerti yang baik" HR. Tirmidzi, No. 2003.
16. JUJUR
"Hendaklah kalian berlaku jujur karena kejujuran itu menunjukan kepada kebaikan, dan kebaikan menunjukan jalan menuju surga"
HR. Bukhari Juz. X/No. 423 dan HR. Muslim., No. 2607.
17. MENAHAN MARAH
"Barangsiapa menahan marah padahal ia mampu menampakkannya maka kelak pada hari kiamat Allah akan memanggilnya di hadapan para makhluk dan menyuruhnya untuk memilih bidadari yang ia sukai" HR. Tirmidzi, No. 2022.
18. MEMBACA DO`A PENUTUP MAJLIS
"Barangsiapa yang duduk dalam suatu majlis dan banyak terjadi di dalamnya kegaduhan lalu sebelum berdiri dari duduknya ia membaca do`a:
(Maha Suci Engkau Ya Allah dan dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa Tidak ada Ilah (Tuhan) yang berhak disembah kecuali Engkau, aku memohon ampun dan bertobat kepada-Mu) melainkan ia akan diampuni dari dosa-dosanya selama ia berada di majlis tersebut" HR. Tirmidzi, Juz III/No. 153.
19. SABAR
"Tidaklah suatu musibah menimpa seorang muslim baik berupa malapetaka, kegundahan, rasa letih, kesedihan, rasa sakit, kesusahan sampai-sampai duri yang menusuknya kecuali Allah akan melebur dengannya kesalahan-kesalahannya" HR. Bukhari, Juz. X/No. 91.
20. BERBAKTI KEPADA KEDUA ORANG TUA
"Sangat celaka, sangat celaka, sangat celaka...! Kemudian ditanyakan: Siapa ya Rasulullah?, beliau bersabda: ((Barangsiapa yang mendapati kedua orang tuanya atau salah satunya di masa lanjut usia kemudian ia tidak bisa masuk surga))" HR. Muslim, No. 2551.
21. BERUSAHA MEMBANTU PARA JANDA DAN MISKIN
"Orang yang berusaha membantu para janda dan fakir miskin sama halnya dengan orang yang berjihad di jalan Allah" dan saya (perawi-pent) mengira beliau berkata: ((Dan seperti orang melakukan qiyamullail yang tidak pernah jenuh, dan seperti orang berpuasa yang tidak pernah berbuka" HR. Bukhari, Juz. X/No. 366
22. MENANGGUNG BEBAN HIDUP ANAK YATIM
"Saya dan penanggung beban hidup anak yatim itu di surga seperti begini," seraya beliau menunjukan kedua jarinya: jari telunjuk dan jari tengah.
HR. Bukhari, Juz. X/No. 365.
23. WUDHU`
"Barangsiapa yang berwudhu`, kemudian ia memperbagus wudhu`nya maka keluarlah dosa-dosanya dari jasadnya, hingga keluar dari ujung kukunya"
HR. Muslim, No. 245.
24. BERSYAHADAT SETELAH BERWUDHU`
((Barangsiapa berwudhu` lalu memperbagus wudhu`nya kemudian ia mengucapkan:
أشْهَدُ أنْ لاَّ إلهَ إلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ ورَسُوْلُُُهُ،
اَللَّهُمَّ اجْعَلْنِيْ مِنَ التَّوَّابِيْنَ وَاجْعَلْنِيْ مِنَ الْمُتَطَهِّرِيْنَ
(Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan yang haq selain Allah tiada sekutu bagi-Nya, dan saya bersaksi bahwa Muhammad hamba dan utusan-Nya,Ya Allah jadikanlah aku termasuk orang yang bertobat dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bersuci," maka dibukakan baginya pintu-pintu surga dan ia dapat memasukinya dari pintu mana saja yang ia kehendaki"
HR. Muslim, No. 234.
25. MENGUCAPKAN DO`A SETELAH AZAN
"Barangsiapa mengucapkan do`a ketika ia mendengar seruan azan:
اَللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ والصَّلاَةِ القَائِمَةِ, آتِ مُحَمَّداً الْوَسِيْلَةَ وَالْفَضِيْلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَاماً مَّحْمُوْداً الَّذِيْ وَعَدتَّهُ
((Ya Allah pemilik panggilan yang sempurna dan shalat yang ditegakkan, berilah Muhammad wasilah (derajat paling tinggi di surga) dan kelebihan, dan bangkitkanlah ia dalam kedudukan terpuji yang telah Engkau janjikan kepadanya)) maka ia berhak mendapatkan syafa`atku pada hari kiamat"
HR. Bukhari, Juz. II/No. 77.
26. MEMBANGUN MASJID
"Barangsiapa membangun masjid karena mengharapkan keridhaan Allah maka dibangunkan baginya yang serupa di surga" HR. Bukhari, No. 450.
27. BERSIWAK
"Seandainya saya tidak mempersulit umatku niscaya saya perintahkan mereka untuk bersiwak pada setiap shalat" HR. Bukhari II/No. 331 dan HR. Muslim, No. 252.
28. BERANGKAT KE MASJID
"Barangsiapa berangkat ke masjid pada waktu pagi atau sore, niscaya Allah mempersiapkan baginya tempat persinggahan di surga setiap kali ia berangkat pada waktu pagi atau sore" HR. Bukhari, Juz. II/No. 124 dan HR. Muslim, No. 669.
29. SHALAT LIMA WAKTU
"Tiada seorang muslim kedatangan waktu shalat fardhu kemudian ia memperbagus wudhu`nya, kekhusyu`annya dan ruku`nya kecuali hal itu menjadi pelebur dosa-dosa yang dilakukan sebelumnya selama ia tidak dilanggar suatu dosa besar. Dan yang demikian itu berlaku sepanjang masa" HR. Muslim, No. 228.
30. SHALAT SUBUH DAN ASHAR
"Barangsiapa shalat pada dua waktu pagi dan sore (subuh dan ashar) maka ia masuk surga" HR. Bukhari, Juz. II/No. 43.
31. SHALAT JUM`AT
"Barangsiapa berwudhu` lalu memperindahnya, kemudian ia menghadiri shalat Jum`at, mendengar dan menyimak (khutbah) maka diampuni dosanya yang terjadi antara Jum`at pada hari itu dengan Jum`at yang lain dan ditambah lagi tiga hari" HR. Muslim, 857.
32. SAAT DIKABULKANNYA PERMOHONAN PADA HARI JUM`AT
"Pada hari ini terdapat suatu saat bilamana seorang hamba muslim bertepatan dengannya sedangkan ia berdiri shalat seraya bermohon kepada Allah sesuatu, tiada lain ia akan dikabulkan permohonannya"
HR. Bukhari, Juz. II/No. 344 dan HR. Muslim, No. 852.
33. MENGIRINGI SHALAT FARDHU DENGAN SHALAT SUNNAT RAWATIB
"Tiada seorang hamba muslim shalat karena Allah setiap hari 12 rakaat sebagai shalat sunnat selain shalat fardhu, kecuali Allah membangunkan baginya rumah di surga" HR. Muslim, No. 728.
34. SHALAT 2 (DUA) RAKAAT SETELAH MELAKUKAN DOSA
"Tiada seorang hamba yang melakukan dosa, lalu ia berwudhu` dengan sempurna kemudian berdiri melakukan shalat 2 rakaat, lalu memohon ampunan Allah, melainkan Allah mengampuninya" HR. Abu Daud, No.1521.
35. SHALAT MALAM
"Shalat yang paling afdhal setelah shalat fardhu adalah shalat malam"
HR. Muslim, No. 1163.
36. SHALAT DHUHA
"Setiap persendian dari salah seorang di antara kalian pada setiap paginya memiliki kewajiban sedekah, sedangkan setiap tasbih itu sedekah, setiap tahmid itu sedekah, setiap tahlil itu sedekah, setiap takbir itu sedekah, memerintahkan kepada yang makruf itu sedekah dan mencegah dari yang mungkar itu sedekah, tetapi semuanya itu dapat terpenuhi dengan melakukan shalat 2 rakaat dhuha" HR. Muslim, No. 720.
37. SHALAWAT KEPADA NABI SAW
"Barangsiapa bershalawat kepadaku satu kali maka Allah membalas shalawatnya itu sebanyak 10 kali" HR. Muslim, No. 384.
38. PUASA
"Tiada seorang hamba berpuasa satu hari di jalan Allah melainkan Allah menjauhkannya karena puasa itu dari neraka selama 70 tahun" HR. Bukhari, Juz. VI/No. 35.
39. PUASA 3 (TIGA) HARI PADA SETIAP BULAN
"Puasa 3 (tiga) hari pada setiap bulan merupakan puasa sepanjang masa"
HR. Bukhari, Juz. IV/No. 192 dan HR. Muslim, No. 1159.
(Bersambung ke edisi berikutnya ....)
40. PUASA 6 (ENAM) HARI PADA BULAN SYAWAL
"Barangsiapa melakukan puasa Ramadhan, lalu ia mengiringinya dengan puasa 6 hari pada bulan Syawal maka hal itu seperti puasa sepanjang masa"
HR. Muslim, 1164.
41. PUASA `ARAFAT
"Puasa pada hari `Arafat (9 Dzulhijjah) dapat melebur (dosa-dosa) tahun yang lalu dan yang akan datang" HR. Muslim, No. 1162.
42. PUASA `ASYURA
"Dan dengan puasa hari `Asyura (10 Muharram) saya berharap kepada Allah dapat melebur dosa-dosa setahun sebelumnya" HR. Muslim,No. 1162.
43. MEMBERI HIDANGAN BERBUKA BAGI ORANG YANG BERPUASA
"Barangsiapa yang memberi hidangan berbuka bagi orang yang berpuasa maka baginya pahala seperti pahala orang berpuasa itu, dengan tidak mengurangi pahalanya sedikitpun" HR. Tirmidzi, No. 807.
44. SHALAT DI MALAM LAILATUL QADR
"Barangsiapa mendirikan shalat di (malam) Lailatul Qadr karena iman dan mengharap pahala, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu"
HR. Bukhari Juz. IV/No. 221 dan HR. Muslim, No. 1165.
45. SEDEKAH
"Sedekah itu menghapuskan kesalahan sebagaimana air memadamkan api"
HR. Tirmidzi, No. 2616.
46. HAJI DAN UMRAH
"Dari umrah ke umrah berikutnya merupakan kaffarah (penebus dosa) yang terjadi di antara keduanya, dan haji yang mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga" HR. Muslim, No. 1349.
47. BERAMAL SHALIH PADA 10 HARI BULAN DZULHIJJAH
"Tiada hari-hari, beramal shalih pada saat itu lebih dicintai Allah daripada hari-hari ini, yaitu 10 hari pada bulan Dzulhijjah. Para sahabat bertanya: "Dan tidak (pula) jihad di jalan Allah? Beliau bersabda: "Tidak (pula) jihad di jalan Allah, kecuali orang yang keluar dengan jiwa dan hartanya kemudian ia tidak kembali lagi dengan membawa sesuatu apapun"
HR. Bukhari, Juz. II/No. 381.
48. JIHAD DI JALAN ALLAH
"Bersiap siaga satu hari di jalan Allah adalah lebih baik daripada dunia dan seisinya, dan tempat pecut salah seorang kalian di surga adalah lebih baik daripada dunia dan seisinya" HR. Bukhari, Juz. VI/No. 11.
49. INFAQ DI JALAN ALLAH
"Barangsiapa membantu persiapan orang yang berperang maka ia (termasuk) ikut berperang, dan barangsiapa membantu mengurusi keluarga orang yang berperang, maka iapun (juga) termasuk ikut berperang" HR. Bukhari, Juz.VI/No. 37 dan HR. Muslim, No. 1895.
50. MENSHALATI MAYIT DAN MENGIRINGI JENAZAH
"Barangsiapa ikut menyaksikan jenazah sampai dishalatkan maka ia memperoleh pahala satu qirat, dan barangsiapa yang menyaksikannya sampai dikubur maka baginya pahala dua qirat. Lalu dikatakan: "Apakah dua qirat itu?", beliau menjawab: ((Seperti dua gunung besar))" HR. Bukhari, Juz. III/No. 158.
51. MENJAGA LIDAH DAN KEMALUAN
"Siapa yang menjamin bagiku "sesuatu" antara dua dagunya dan dua selangkangannya, maka aku jamin baginya surga"
HR. Bukhari, Juz. II/No. 264 dan HR. Muslim, No. 265.
52. KEUTAMAAN MENGUCAPKAN LAA ILAHA ILLALLAH DAN SUBHANALLAH WA BI HAMDIH
"Barangsiapa mengucapkan:
((لاَ إلهَ إلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ)) sehari seratus kali, maka baginya seperti memerdekakan 10 budak, dan dicatat baginya 100 kebaikan,dan dihapus darinya 100 kesalahan, serta doanya ini menjadi perisai baginya dari syaithan pada hari itu sampai sore. Dan tak seorangpun yang mampu menyamai hal itu, kecuali seseorang yang melakukannya lebih banyak darinya". Dan beliau bersabda: "Barangsiapa mengucapkan: (( سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ )) satu hari 100 kali, maka dihapuskan dosa-dosanya sekalipun seperti buih di lautan"
HR. Bukhari, Juz. II/No. 168 dan HR. Muslim, No. 2691.
53. MENYINGKIRKAN GANGGUAN DARI JALAN
"Saya telah melihat seseorang bergelimang di dalam kenikmatan surga dikarenakan ia memotong pohon dari tengah-tengah jalan yang mengganggu orang-orang" HR. Muslim.
54. MENDIDIK DAN MENGAYOMI ANAK PEREMPUAN
"Barangsiapa memiliki tiga anak perempuan, di mana ia melindungi, menyayangi, dan menanggung beban kehidupannya maka ia pasti akan mendapatkan surga" HR. Ahmad dengan sanad yang baik.
55. BERBUAT BAIK KEPADA HEWAN
"Ada seseorang melihat seekor anjing yang menjilat-jilat debu karena kehausan maka orang itu mengambil sepatunya dan memenuhinya dengan air kemudian meminumkannya pada anjing tersebut, maka Allah berterimakasih kepadanya dan memasukkannya ke dalam surga" HR. Bukhari.
57. MENINGGALKAN PERDEBATAN
"Aku adalah pemimpin rumah di tengah surga bagi siapa saja yang meninggalkan perdebatan padahal ia dapat memenangkannya"HR. Abu Daud.
58. MENGUNJUNGI SAUDARA-SAUDARA SEIMAN
((Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang para penghuni surga? Mereka berkata: "Tentu wahai Rasulullah", maka beliau bersabda: "Nabi itu di surga, orang yang jujur di surga, dan orang yang mengunjungi saudaranya yang sangat jauh dan dia tidak mengunjunginya kecuali karena Allah maka ia di surga")) Hadits hasan, riwayat At-Thabrani.
59. KETAATAN SEORANG ISTRI TERHADAP SUAMINYA
"Apabila seorang perempuan menjaga shalatnya yang lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, dan menjaga kemaluannya serta menaati suaminya maka ia akan masuk surga melalui pintu mana saja yang ia kehendaki" HR. Ibnu Hibban, hadits shahih.
60. TIDAK MEMINTA-MINTA KEPADA ORANG LAIN
"Barangsiapa yang menjamin dirinya kepadaku untuk tidak meminta-minta apapun kepada manusia maka aku akan jamin ia masuk surga"
Hadits shahih, riwayat Ahlus Sunan.
Judul Asli: 60 باباً من أبواب الأجر وكفارات الخطايا - دار الوطن
1. TAUBAT
"Barangsiapa yang bertaubat sebelum matahari terbit dari barat, niscaya Allah akan mengampuninya" HR. Muslim, No. 2703.
"Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla menerima taubat seorang hamba selama ruh belum sampai ketenggorokan".
2. KELUAR UNTUK MENUNTUT ILMU
"Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, nescaya Allah memudahkan baginya dengan (ilmu) itu jalan menuju surga" HR. Muslim, No. 2699.
3. SENANTIASA MENGINGAT ALLAH
"Inginkah kalian aku tunjukkan kepada amalan-amalan yang terbaik, tersuci disisi Allah, tertinggi dalam tingkatan darjat, lebih utama daripada mendermakan emas dan perak, dan lebih baik daripada menghadapi musuh lalu kalian tebas batang lehernya, dan merekapun menebas batang leher kalian. Mereka berkata: "Tentu", lalu beliau bersabda: (( Zikir kepada Allah Ta`ala ))" HR. At Turmidzi, No. 3347.
4. BERBUAT YANG MA`RUF DAN MENUNJUKKAN JALAN KEBAIKAN
"Setiap yang ma`ruf adalah shadaqah, dan orang yang menunjukkan jalan kepada kebaikan (akan mendapat pahala) seperti pelakunya" HR. Bukhari, Juz. X/ No. 374 dan Muslim, No. 1005.
5. BERDA`WAH KEPADA ALLAH
"Barangsiapa yang mengajak (seseorang) kepada petunjuk (kebaikan), maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun" HR. Muslim, No. 2674.
6. MENGAJAK YANG MA`RUF DAN MENCEGAH YANG MUNGKAR.
"Barangsiapa diantara kalian melihat suatu kemungkaran, maka hendaklah ia mengubah kemungkaran itu dengan tangannya, jika ia tidak mampu maka dengan lisannya, jika ia tidak mampu (pula) maka dengan hatinya dan itu adalah selemah-lemahnya iman" HR. Muslim, No. 804.
7. MEMBACA AL QUR`AN
"Bacalah Al Qur`an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat untuk memberikan syafa`at kepada pembacanya" HR. Muslim, No. 49.
8. MEMPELAJARI AL QUR`AN DAN MENGAJARKANNYA
"Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al Qur`an dan mengajarkannya" HR. Bukhari, Juz. IX/No. 66.
9. MENYEBARKAN SALAM
"Kalian tidak akan masuk surga sehingga beriman, dan tidaklah kalian beriman (sempurna) sehingga berkasih sayang. Maukah aku tunjukan suatu amalan yang jika kalian lakukan akan menumbuhkan kasih sayang di antara kalian? (yaitu) sebarkanlah salam" HR. Muslim, No.54.
10. MENCINTAI KARENA ALLAH
"Sesungguhnya Allah Ta`ala berfirman pada hari kiamat: ((Di manakah orang-orang yang mencintai karena keagungan-Ku? Hari ini Aku akan menaunginya dalam naungan-Ku, pada hari yang tiada naungan selain naungan-Ku))" HR. Muslim, No. 2566.
11. MENZIARAHI ORANG SAKIT
"Tiada seorang muslim pun menziarahi orang muslim yang sedang sakit pada pagi hari kecuali ada 70.000 malaikat bershalawat kepadanya hingga sore hari, dan apabila ia menjenguk pada petang harinya mereka akan shalawat kepadanya hingga pagi hari, dan akan diberikan kepadanya sebuah taman di surga" HR. Tirmidzi, No. 969.
12. MEMBANTU MELUNASI HUTANG
"Barangsiapa meringankan beban orang yang dalam kesulitan maka Allah akan meringankan bebannya di dunia dan di akhirat" HR. Muslim, No.2699.
13. MENUTUP AIB ORANG LAIN
"Tidaklah seorang hamba menutup aib hamba yang lain di dunia kecuali Allah akan menutupi aibnya di hari kiamat" HR. Muslim, No. 2590.
14. MENYAMBUNG TALI SILATURAHMI
"Silaturahmi itu tergantung di `Arsy seraya berkata: "Barangsiapa yang menyambungku maka Allah akan menyambung hubungan dengannya, dan barangsiapa yang memutuskanku maka Allah akan memutuskan hubungan dengannya"
HR. Bukhari, Juz. X/No. 423 dan HR. Muslim, No. 2555.
15. BERAKHLAK YANG BAIK
"Rasulullah SAW ditanya tentang apa yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam surga, maka beliau menjawab: "Bertakwa kepada Allah dan berbudi pekerti yang baik" HR. Tirmidzi, No. 2003.
16. JUJUR
"Hendaklah kalian berlaku jujur karena kejujuran itu menunjukan kepada kebaikan, dan kebaikan menunjukan jalan menuju surga"
HR. Bukhari Juz. X/No. 423 dan HR. Muslim., No. 2607.
17. MENAHAN MARAH
"Barangsiapa menahan marah padahal ia mampu menampakkannya maka kelak pada hari kiamat Allah akan memanggilnya di hadapan para makhluk dan menyuruhnya untuk memilih bidadari yang ia sukai" HR. Tirmidzi, No. 2022.
18. MEMBACA DO`A PENUTUP MAJLIS
"Barangsiapa yang duduk dalam suatu majlis dan banyak terjadi di dalamnya kegaduhan lalu sebelum berdiri dari duduknya ia membaca do`a:
(Maha Suci Engkau Ya Allah dan dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa Tidak ada Ilah (Tuhan) yang berhak disembah kecuali Engkau, aku memohon ampun dan bertobat kepada-Mu) melainkan ia akan diampuni dari dosa-dosanya selama ia berada di majlis tersebut" HR. Tirmidzi, Juz III/No. 153.
19. SABAR
"Tidaklah suatu musibah menimpa seorang muslim baik berupa malapetaka, kegundahan, rasa letih, kesedihan, rasa sakit, kesusahan sampai-sampai duri yang menusuknya kecuali Allah akan melebur dengannya kesalahan-kesalahannya" HR. Bukhari, Juz. X/No. 91.
20. BERBAKTI KEPADA KEDUA ORANG TUA
"Sangat celaka, sangat celaka, sangat celaka...! Kemudian ditanyakan: Siapa ya Rasulullah?, beliau bersabda: ((Barangsiapa yang mendapati kedua orang tuanya atau salah satunya di masa lanjut usia kemudian ia tidak bisa masuk surga))" HR. Muslim, No. 2551.
21. BERUSAHA MEMBANTU PARA JANDA DAN MISKIN
"Orang yang berusaha membantu para janda dan fakir miskin sama halnya dengan orang yang berjihad di jalan Allah" dan saya (perawi-pent) mengira beliau berkata: ((Dan seperti orang melakukan qiyamullail yang tidak pernah jenuh, dan seperti orang berpuasa yang tidak pernah berbuka" HR. Bukhari, Juz. X/No. 366
22. MENANGGUNG BEBAN HIDUP ANAK YATIM
"Saya dan penanggung beban hidup anak yatim itu di surga seperti begini," seraya beliau menunjukan kedua jarinya: jari telunjuk dan jari tengah.
HR. Bukhari, Juz. X/No. 365.
23. WUDHU`
"Barangsiapa yang berwudhu`, kemudian ia memperbagus wudhu`nya maka keluarlah dosa-dosanya dari jasadnya, hingga keluar dari ujung kukunya"
HR. Muslim, No. 245.
24. BERSYAHADAT SETELAH BERWUDHU`
((Barangsiapa berwudhu` lalu memperbagus wudhu`nya kemudian ia mengucapkan:
أشْهَدُ أنْ لاَّ إلهَ إلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ ورَسُوْلُُُهُ،
اَللَّهُمَّ اجْعَلْنِيْ مِنَ التَّوَّابِيْنَ وَاجْعَلْنِيْ مِنَ الْمُتَطَهِّرِيْنَ
(Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan yang haq selain Allah tiada sekutu bagi-Nya, dan saya bersaksi bahwa Muhammad hamba dan utusan-Nya,Ya Allah jadikanlah aku termasuk orang yang bertobat dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bersuci," maka dibukakan baginya pintu-pintu surga dan ia dapat memasukinya dari pintu mana saja yang ia kehendaki"
HR. Muslim, No. 234.
25. MENGUCAPKAN DO`A SETELAH AZAN
"Barangsiapa mengucapkan do`a ketika ia mendengar seruan azan:
اَللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ والصَّلاَةِ القَائِمَةِ, آتِ مُحَمَّداً الْوَسِيْلَةَ وَالْفَضِيْلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَاماً مَّحْمُوْداً الَّذِيْ وَعَدتَّهُ
((Ya Allah pemilik panggilan yang sempurna dan shalat yang ditegakkan, berilah Muhammad wasilah (derajat paling tinggi di surga) dan kelebihan, dan bangkitkanlah ia dalam kedudukan terpuji yang telah Engkau janjikan kepadanya)) maka ia berhak mendapatkan syafa`atku pada hari kiamat"
HR. Bukhari, Juz. II/No. 77.
26. MEMBANGUN MASJID
"Barangsiapa membangun masjid karena mengharapkan keridhaan Allah maka dibangunkan baginya yang serupa di surga" HR. Bukhari, No. 450.
27. BERSIWAK
"Seandainya saya tidak mempersulit umatku niscaya saya perintahkan mereka untuk bersiwak pada setiap shalat" HR. Bukhari II/No. 331 dan HR. Muslim, No. 252.
28. BERANGKAT KE MASJID
"Barangsiapa berangkat ke masjid pada waktu pagi atau sore, niscaya Allah mempersiapkan baginya tempat persinggahan di surga setiap kali ia berangkat pada waktu pagi atau sore" HR. Bukhari, Juz. II/No. 124 dan HR. Muslim, No. 669.
29. SHALAT LIMA WAKTU
"Tiada seorang muslim kedatangan waktu shalat fardhu kemudian ia memperbagus wudhu`nya, kekhusyu`annya dan ruku`nya kecuali hal itu menjadi pelebur dosa-dosa yang dilakukan sebelumnya selama ia tidak dilanggar suatu dosa besar. Dan yang demikian itu berlaku sepanjang masa" HR. Muslim, No. 228.
30. SHALAT SUBUH DAN ASHAR
"Barangsiapa shalat pada dua waktu pagi dan sore (subuh dan ashar) maka ia masuk surga" HR. Bukhari, Juz. II/No. 43.
31. SHALAT JUM`AT
"Barangsiapa berwudhu` lalu memperindahnya, kemudian ia menghadiri shalat Jum`at, mendengar dan menyimak (khutbah) maka diampuni dosanya yang terjadi antara Jum`at pada hari itu dengan Jum`at yang lain dan ditambah lagi tiga hari" HR. Muslim, 857.
32. SAAT DIKABULKANNYA PERMOHONAN PADA HARI JUM`AT
"Pada hari ini terdapat suatu saat bilamana seorang hamba muslim bertepatan dengannya sedangkan ia berdiri shalat seraya bermohon kepada Allah sesuatu, tiada lain ia akan dikabulkan permohonannya"
HR. Bukhari, Juz. II/No. 344 dan HR. Muslim, No. 852.
33. MENGIRINGI SHALAT FARDHU DENGAN SHALAT SUNNAT RAWATIB
"Tiada seorang hamba muslim shalat karena Allah setiap hari 12 rakaat sebagai shalat sunnat selain shalat fardhu, kecuali Allah membangunkan baginya rumah di surga" HR. Muslim, No. 728.
34. SHALAT 2 (DUA) RAKAAT SETELAH MELAKUKAN DOSA
"Tiada seorang hamba yang melakukan dosa, lalu ia berwudhu` dengan sempurna kemudian berdiri melakukan shalat 2 rakaat, lalu memohon ampunan Allah, melainkan Allah mengampuninya" HR. Abu Daud, No.1521.
35. SHALAT MALAM
"Shalat yang paling afdhal setelah shalat fardhu adalah shalat malam"
HR. Muslim, No. 1163.
36. SHALAT DHUHA
"Setiap persendian dari salah seorang di antara kalian pada setiap paginya memiliki kewajiban sedekah, sedangkan setiap tasbih itu sedekah, setiap tahmid itu sedekah, setiap tahlil itu sedekah, setiap takbir itu sedekah, memerintahkan kepada yang makruf itu sedekah dan mencegah dari yang mungkar itu sedekah, tetapi semuanya itu dapat terpenuhi dengan melakukan shalat 2 rakaat dhuha" HR. Muslim, No. 720.
37. SHALAWAT KEPADA NABI SAW
"Barangsiapa bershalawat kepadaku satu kali maka Allah membalas shalawatnya itu sebanyak 10 kali" HR. Muslim, No. 384.
38. PUASA
"Tiada seorang hamba berpuasa satu hari di jalan Allah melainkan Allah menjauhkannya karena puasa itu dari neraka selama 70 tahun" HR. Bukhari, Juz. VI/No. 35.
39. PUASA 3 (TIGA) HARI PADA SETIAP BULAN
"Puasa 3 (tiga) hari pada setiap bulan merupakan puasa sepanjang masa"
HR. Bukhari, Juz. IV/No. 192 dan HR. Muslim, No. 1159.
(Bersambung ke edisi berikutnya ....)
40. PUASA 6 (ENAM) HARI PADA BULAN SYAWAL
"Barangsiapa melakukan puasa Ramadhan, lalu ia mengiringinya dengan puasa 6 hari pada bulan Syawal maka hal itu seperti puasa sepanjang masa"
HR. Muslim, 1164.
41. PUASA `ARAFAT
"Puasa pada hari `Arafat (9 Dzulhijjah) dapat melebur (dosa-dosa) tahun yang lalu dan yang akan datang" HR. Muslim, No. 1162.
42. PUASA `ASYURA
"Dan dengan puasa hari `Asyura (10 Muharram) saya berharap kepada Allah dapat melebur dosa-dosa setahun sebelumnya" HR. Muslim,No. 1162.
43. MEMBERI HIDANGAN BERBUKA BAGI ORANG YANG BERPUASA
"Barangsiapa yang memberi hidangan berbuka bagi orang yang berpuasa maka baginya pahala seperti pahala orang berpuasa itu, dengan tidak mengurangi pahalanya sedikitpun" HR. Tirmidzi, No. 807.
44. SHALAT DI MALAM LAILATUL QADR
"Barangsiapa mendirikan shalat di (malam) Lailatul Qadr karena iman dan mengharap pahala, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu"
HR. Bukhari Juz. IV/No. 221 dan HR. Muslim, No. 1165.
45. SEDEKAH
"Sedekah itu menghapuskan kesalahan sebagaimana air memadamkan api"
HR. Tirmidzi, No. 2616.
46. HAJI DAN UMRAH
"Dari umrah ke umrah berikutnya merupakan kaffarah (penebus dosa) yang terjadi di antara keduanya, dan haji yang mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga" HR. Muslim, No. 1349.
47. BERAMAL SHALIH PADA 10 HARI BULAN DZULHIJJAH
"Tiada hari-hari, beramal shalih pada saat itu lebih dicintai Allah daripada hari-hari ini, yaitu 10 hari pada bulan Dzulhijjah. Para sahabat bertanya: "Dan tidak (pula) jihad di jalan Allah? Beliau bersabda: "Tidak (pula) jihad di jalan Allah, kecuali orang yang keluar dengan jiwa dan hartanya kemudian ia tidak kembali lagi dengan membawa sesuatu apapun"
HR. Bukhari, Juz. II/No. 381.
48. JIHAD DI JALAN ALLAH
"Bersiap siaga satu hari di jalan Allah adalah lebih baik daripada dunia dan seisinya, dan tempat pecut salah seorang kalian di surga adalah lebih baik daripada dunia dan seisinya" HR. Bukhari, Juz. VI/No. 11.
49. INFAQ DI JALAN ALLAH
"Barangsiapa membantu persiapan orang yang berperang maka ia (termasuk) ikut berperang, dan barangsiapa membantu mengurusi keluarga orang yang berperang, maka iapun (juga) termasuk ikut berperang" HR. Bukhari, Juz.VI/No. 37 dan HR. Muslim, No. 1895.
50. MENSHALATI MAYIT DAN MENGIRINGI JENAZAH
"Barangsiapa ikut menyaksikan jenazah sampai dishalatkan maka ia memperoleh pahala satu qirat, dan barangsiapa yang menyaksikannya sampai dikubur maka baginya pahala dua qirat. Lalu dikatakan: "Apakah dua qirat itu?", beliau menjawab: ((Seperti dua gunung besar))" HR. Bukhari, Juz. III/No. 158.
51. MENJAGA LIDAH DAN KEMALUAN
"Siapa yang menjamin bagiku "sesuatu" antara dua dagunya dan dua selangkangannya, maka aku jamin baginya surga"
HR. Bukhari, Juz. II/No. 264 dan HR. Muslim, No. 265.
52. KEUTAMAAN MENGUCAPKAN LAA ILAHA ILLALLAH DAN SUBHANALLAH WA BI HAMDIH
"Barangsiapa mengucapkan:
((لاَ إلهَ إلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ)) sehari seratus kali, maka baginya seperti memerdekakan 10 budak, dan dicatat baginya 100 kebaikan,dan dihapus darinya 100 kesalahan, serta doanya ini menjadi perisai baginya dari syaithan pada hari itu sampai sore. Dan tak seorangpun yang mampu menyamai hal itu, kecuali seseorang yang melakukannya lebih banyak darinya". Dan beliau bersabda: "Barangsiapa mengucapkan: (( سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ )) satu hari 100 kali, maka dihapuskan dosa-dosanya sekalipun seperti buih di lautan"
HR. Bukhari, Juz. II/No. 168 dan HR. Muslim, No. 2691.
53. MENYINGKIRKAN GANGGUAN DARI JALAN
"Saya telah melihat seseorang bergelimang di dalam kenikmatan surga dikarenakan ia memotong pohon dari tengah-tengah jalan yang mengganggu orang-orang" HR. Muslim.
54. MENDIDIK DAN MENGAYOMI ANAK PEREMPUAN
"Barangsiapa memiliki tiga anak perempuan, di mana ia melindungi, menyayangi, dan menanggung beban kehidupannya maka ia pasti akan mendapatkan surga" HR. Ahmad dengan sanad yang baik.
55. BERBUAT BAIK KEPADA HEWAN
"Ada seseorang melihat seekor anjing yang menjilat-jilat debu karena kehausan maka orang itu mengambil sepatunya dan memenuhinya dengan air kemudian meminumkannya pada anjing tersebut, maka Allah berterimakasih kepadanya dan memasukkannya ke dalam surga" HR. Bukhari.
57. MENINGGALKAN PERDEBATAN
"Aku adalah pemimpin rumah di tengah surga bagi siapa saja yang meninggalkan perdebatan padahal ia dapat memenangkannya"HR. Abu Daud.
58. MENGUNJUNGI SAUDARA-SAUDARA SEIMAN
((Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang para penghuni surga? Mereka berkata: "Tentu wahai Rasulullah", maka beliau bersabda: "Nabi itu di surga, orang yang jujur di surga, dan orang yang mengunjungi saudaranya yang sangat jauh dan dia tidak mengunjunginya kecuali karena Allah maka ia di surga")) Hadits hasan, riwayat At-Thabrani.
59. KETAATAN SEORANG ISTRI TERHADAP SUAMINYA
"Apabila seorang perempuan menjaga shalatnya yang lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, dan menjaga kemaluannya serta menaati suaminya maka ia akan masuk surga melalui pintu mana saja yang ia kehendaki" HR. Ibnu Hibban, hadits shahih.
60. TIDAK MEMINTA-MINTA KEPADA ORANG LAIN
"Barangsiapa yang menjamin dirinya kepadaku untuk tidak meminta-minta apapun kepada manusia maka aku akan jamin ia masuk surga"
Hadits shahih, riwayat Ahlus Sunan.
Judul Asli: 60 باباً من أبواب الأجر وكفارات الخطايا - دار الوطن
Monday, July 20, 2009
Islam Melarang Ghuluw - Tanaththu' - Tasyaddud
عَنْ عَبْدُالله بن مَسْعُود رَضِى اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: هَلَكَ الْمُتَنَطِّعُوْنَ (ثلاث)
(رواه مسلم)
٢) قَالَ رَسُوْلُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِى الدِّيْنِ، فإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ قَبْلِكُمْ بِالْغُلُوِّ فِى الدِّيْنِ
(رواه ابن ماجه)
٣)عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِى اللهُ عَنْهُ عَن النَّبىِّ صَلَّى الله عَلَيْهَ وَسَلَّمَ قَالَ: إِنَّ الدِّيْنَ يُسْرٌ، وَلَنْ يُشَادَّ الدِّيْنَ اَحَدٌ إِلاَّ غَلَبَهُ، فَسَدِّدُوْا وَقَارِبُوْا، وَأَبْشِرُوْا، وَاسْتَعِيْنُوْا، بِالْغُدْوَةِ وَالرَّوْحَةِ وَشَيْءٍ مِنَ الدُّلَجَةِ. (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ) وَفِي لَفْظٍ: وَالْقَصْدُ الْقَصْدُ تَبْلُغُوْا
(رواه البخاري)
Terjemahan:
1. Daripada Abdullah Bin Mas’ud (ra) katanya: Telah bersabda Rasulullah (sallallahu alaihi wasalam): Binasalah orang yang tanaththu’ (3x).
[Hadis Sahih Riwayat Imam Muslim]
2. Rasulullah (sallallahu alaihi wasalam) bersabda: Jauhilah olehmu daripada ghuluw dalam beragama, karena binasanya orang-orang sebelum kamu (Ahlul Kitab) adalah disebabkan sikap ghuluw mereka dalam beragama.
[Hadis Riwayat Ibnu Majah dengan sanad Sahih]
3. Daripada Abi Hurairah (ra) katanya: Telah bersabda Rasul (sallallahu alaihi wasalam): sesungguhnya agama (Islam) itu mudah, dan tidaklah sama sekali seseorang yang tasyaddud dalam beragama melainkan pasti agama itu akan mengalahkannya, oleh sebab itu hendaklah kamu menepatinya dan menghampirinya dan bergembiralah (dengan berita itu). Dan mohon pertolonganlah kamu dengan waktu pagi dan petang dan sedikit daripada waktu malam. (Dan dalam lafaz yang lain pula): Hendaklah kamu bersikap sederhana, hendaklah kamu bersikap sederhana, niscaya kamu akan sampai (kepada tujuan yang selamat).
[Hadis Riwayat Imam Bukhari]
Mukaddimah:
Iblis sangat benci kepada manusia yang suka mendalami ilmu-ilmu agama atau Tafaqquh Fid Diin. Malahan Iblis atau syaitan sangat takut kepada mereka. Sebaliknya Iblis sangat suka kepada orang-orang jahil walaupun ia banyak beribadat dan kelihatannya taat kepada Allah. Tetapi jangan disangka Iblis berhenti menggoda orang yang berilmu. Dengan sifat Khannaasnya (datang dan pergi dengan pantas), Iblis akan terus berusaha menyelewengkan manusia yang berilmu dan kuat beragama daripada jalan Allah yang lurus (Shirathal Mustaqim). Bagaimana cara Iblis memesongkan orang-orang yang kuat beragama? Di antara caranya ialah dengan mendorong mereka supaya bersikap GHULUW atau TANATHTHU’ atau TASYADDUD.
Di dalam hadis di atas baginda Rasulullah (sallallahu alaihi wasalam) telah melarang kita daripada memiliki sikap tersebut karena sikap itu bukan saja boleh membinasakan diri yang bersangkutan, tetapi juga boleh merosak image Islam yang indah di mata muslimin yang masih lemah imannya sehingga mereka merasa keberatan dengan ajarannya atau di mata non-muslim sehingga mereka takut memeluk Islam. Padahal Rasulullah (sallallahu alaihi wasalam) dalam hadisnya yang lain bersabda: “Permudahkanlah dan janganlah kamu mempersulit”. [HR Bukhari]
Larangan di atas bukan hanya tercantum di dalam hadis-hadis Nabi (sallallahu alaihi wasalam) tetapi juga banyak terdapat di dalam Al-Quran. Lihat An-Nisaa :171 dan Al-Maidah :77.
Makna GHULUW, TANATHTHU’. TASYADDUD:
Ketiga-tiga istilah di atas hampir sama maknanya iaitu:
Berlebih-lebihan atau melampaui batas-batas yang telah ditetapkan oleh syare’ah (agama).
Uraian Hadis:
Hadis (1):
Imam Ibnu Taimiyah di dalam kitabnya: Iqtidhaaus Shirathal Mustaqim I/288-289 menyebut: Larangan ghuluw dalam urusan agama adalah menyeluruh dalam semua bidang ajarannya, apakah yang bersangkutan dengan akidah ataupun amalan.
Hadis (2):
Imam An-Nawawy dalam kitabnya: Riyadhus Shaalihin m/s 78, berkata: Al-Muthanaththi’un ialah orang-orang yang terlalu mendalam-dalami dan memberat-beratkan urusan agamanya pada tempat-tempat yang sebenarnya tidaklah berat.
Hadis (3):
Imam An-Nawawy dalam kitabnya yang sama m/s 78 berkata: Mutasyaddid akan dikalahkan oleh agamanya. Maksudnya orang berkenaan akhirnya tidak terdaya untuk menjalankan kehendak agamanya karena tuntutannya yang terlalu banyak. Oleh itu Nabi (sallallahu alaihi wasalam) menyuruh kita agar memanfaatkan masa pagi, sore dan sedikit waktu malam untuk beribadah karena pada waktu-waktu itulah badan segar beribadah dan tidak membosankan. Perjalanan manusia menuju akhirat tidak obahnya bagaikan musafir yang sedang menuju ke suatu destinasi. Dia tidak sepatutnya gopoh-gapah tidak menentu karena ingin cepat sampai. Dia akan rehat jika penat dan meneruskan perjalanannya lagi jika badan sudah segar. Dengan cara demikian ia akan sampai ke matlamat yang dituju dengan selamat.
Dalam kitab Dalilul Faalihin I/384 dikatakan pula: Maksud hadis ini agar jangan ada di antara kita yang terlalu mendalam-dalami dan memberat-beratkan amalan-amalan agama dan meninggalkan kesederhanaan dan tidak bersikap lemah-lembut, karena jika itu terjadi niscaya kelak dia akan meninggalkan keseluruhan amalan agamanya atau sebahagian daripadanya. Atau dengan makna lain: Hendaklah kamu bersikap sederhana atau tawashshuth (pertengahan) tanpa ifrath dan tafrith.
Gejala-gejalanya:
Ekoran daripada memiliki sikap di atas maka muncullah pada diri muslim-muslimat berkenaan beberapa gejala kurang sehat yang nyata dapat kita lihat, di antaranya:
Sikap fanatik (ta’ashshub) dengan suatu pandangan dan tidak mahu i’tiraf atau menghormati pandangan orang lain. Orang jenis ini selalu berkata: Adalah hak aku untuk mengatakannya, dan kewajipan kamu hanya mendengar. Adalah hak aku untuk memimpin, dan tugas kamu mengikuti saja. Pandangankulah yang benar dan tidak mungkin salah. Pandangan kamu salah dan tidak mungkin benar.
Sentiasa gemar memilih perkara yang berat-berat dan menyuruh orang lain agar berbuat demikian, walaupun ia mengetahui ada dalil-dalil yang meringankannya. Nabi (sallallahu alaihi wasalam) bersabda: “Permudahkanlah dan jangan mempersulitkan”.
Bersikap keras dan kasar dalam uslub dan ucapan. Orang jenis ini tidak pernah mengenal istilah tolak ansur dan kompromi dalam semua hal. Padahal dalam Islam kita tidak boleh kompromi hanya dalam akidah bukan dalam bab amalan. Hikmah dan lemah lembut sangat dituntut dalam segala hal. Nabi (sallallahu alaihi wasalam) bersabda: “Sesungguhnya Allah itu Rafiq, (Dia) menyuqai RIFQ (lemah lembut) dalam segala urusan”. [Hadis Sahih Riwayat Imam Bukhari]
Mudah berburuk sangka dan menuduh orang lain tanpa bukti atau sebab yang munasabah. Tidak suka menerima keuzuran atau alasan, bahkan gemar mencari-cari kesalahan orang lain. Padahal sebahagian Salafus Saleh berkata: Aku akan menerima keuzuran daripada saudaraku walaupun sampai 70 kali: Kemudian akku akan bertanya: “Barangkali dia masih ada keuzuran lain yang aku tidak mengetahuinya”. Sungguh tepat firman Allah:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah olehmu dari kebanyakan prasangka, sesungguhnya sebahagian prasangka itu adalah dosa”.
(Al-Hujurat 49:12)
Sebab-sebabnya:
Kalaulah demikian bentuk dan gejala ghuluw – thanaththu’ dan tasyaddud, maka apakah yang menjadi punca penyebabnya?
1. Jahil tentang agama:
Yang dimaksudkan dengan jahil tentang agama di sini dapat dilihat daripada beberapa sudut, antaranya:
(a) Kedangkalan ilmunya dalam memahami “maqashid syari’ah” (maksud agama) yang berkaitan dengan konsep taiysir (kemudahan) dan raf’ul haraj (tidak menyusahkan) ke atas orang mukallaf.
(b) Kejahilannya tentang batas-batas syare’ah yang wajib dipatuhi oleh setiap mukallaf dan tidak boleh dilampaui sehingga akhirnya yang sunat dirobahnya menjadi wajib dan yang makruh menjadi haram.
(c) Tidak tepat dalam memahami mashusuh (dalil-dalil) syare’ah, karena ia melihat hanya sebahagian nash-nash Al-Quran dan As-Sunnah tetapi melupakan bahagian-bahagiannya yang lain.
Imam Asy-Syaathiby dalam kitabnya Al-I’tishaam I/244 berkata: Penyebab ghuluw yang utama dalam kontek ini hanya satu iaitu jahil dengan maqashidusysyara’ (maqsud agama) dan tidak mampu menghubungkaitkan antara satu aspek agama dengan aspeknya yang lain. Imam-imam Rashikin (Ulama yang betul-betul pakar dalam bidang agama) melihat syare’at sebagai suatu kesatuan yang berkaitan rapat antara kully dengan juz’iy, antara ‘aam dengan khas, antara mutlak dengan muqayyad.
2. Mengikut hawa nafsu:
Dan di antara penyebab ghuluw ialah karena terlalu mengikuti perasaan dan hawa nafsu. Allah SWT mencela sikap demikian dalam banyak ayat-ayat Al-Quran, antaranya:
بَلِ اتَّبَعَ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَهْوَاءهُم بِغَيْرِ عِلْمٍ
Tetapi orang-orang yang zalim mengikuti hawa nafsunya tanpa ilmu pengetahuan.
(Ar-Ruum 30:29)
Contoh-contohnya:
Supaya kita mendapat suatu gambaran yang jelas tentang sikap ghuluw atau tanaththu’ atau tasyaddud di atas maka berikut ini diberikan beberapa contoh, antaranya:
i. Golongan Khawarij. Mereka ghuluw dalam nushush wa’iid (janji siksa) tetapi ihmaal (mengabaikan) nushush wa’d (janji manis). Akhirnya mereka dengan mudah menghukumkan kafir setiap muslim yang melakukan dosa besar dan mereka akan kekal abadi di dalam neraka.
ii. Golongan Murji-ah. Mereka ghuluw dengan nushush wa’d tetapi ihmaal dengan nushush wa’iid. Oleh itu mereka mendakwa kononnya dosa besar yang dilakukan oleh muslim sedikitpun tidak merosakkan imannya.
iii. Golongan Syi’ah. Mereka ghuluw terhadap Saidina Ali (ra) sehingga tidak mengakui khalifah-khalifah Rasyidin yang lain. Mereka juga ghuluw dengan mendakwa Imam-imam mereka bersifat ma’shum (tidak pernah melakukan dosa).
iv. Segelintir Ahlus Sunnah Waljama’ah yang karena terlalu cinta kepada Rasulullah (sallallahu alaihi wasalam) sehingga mereka menyanjung baginda melampaui batas yang diizinkan oleh Allah SWT. Mereka ghuluw dalam hal Ta’zim (menyanjung) tetapi ihmaal dengan aspek Akidah (Tauhid). Lihat nota: Bukti Cinta Kepada Rasulullah (sallallahu alaihi wasalam).
v. Contoh lain: Ghuluw dalam da’wah tetapi ihmaal dengan tanggungjawab terhadap keluarga. Ghuluw dengan sesetengah hadis tetapi ihmaal dengan hadis-hadis yang lain seperti mengharamkan wanita memakai perhiasan emas (Lihat nota: Apakah hukumnya wanita memakai perhiasan emas?)
vi. Contoh lain: Ghuluw dalam ibadah, ihmaal dalam kemasyarakatan. Ghuluw dalam pakaian yang zahir, ihmaal dengan pensucian hati. Ghuluw dengan Fiqhul Ibadah, ihmaal dengan Fiqhud Da’qah dan Fiqhus Siirah.
Cara mengikis sifat tersebut:
1. Hendaklah kembali kepada ajaran Al-Quran dan As-Sunnah secara menyeluruh, bukan setengah-setengah.
2. Hendaklah juga memahami “Maqashidusysyara’ “ (maksud-maksud agama). Dengan memahaminya akan menolong kita mengambil hukum daripada dua sumber di atas dengan lebih tepat tanpa menggadaikan prinsip.
3. Selain Al-Quran dan As-Sunnah, kita juga mesti mengakui adanya sumber hukum tambahan yang telah disepakati iaitu IJMA’ ULAMA dan QIYAS sekiranya suatu hukum tidak wujud secara pasti di dalam Al-Quran dan As-Sunnah.
4. Inilah cara dakwah Rasulullah (sallallahu alaihi wasalam) dan para sahabat serta Salafus Saleh. Dan inilah juga perjalanan dakwah AHLUS SUNNAH WAL JAMAAH.
Nasihat:
1. Dalamilah selok-belok agama, apakah melalui bacaan atau mengikuti pengajian. Dan jika terdapat perbedaan pandangan pilihlah mana yang diyakini lebih baik dan lebih kuat dalilnya. (Lihat Nota: Ikut Mana Yang Lebih Baik).
2. Jika anda mengambil pandangan yang lebih kuat, itu tidak berarti anda telah mendapat lesen untuk menyalahkan orang lain secara melulu sebab barangkali mereka juga mempunyai dalil dan pandangan tersendiri. (Lihat Nota: Adab-adab perbedaan pandangan).
3. Perbedaan pandangan telah wujud sejak zaman Nabi (sallallahu alaihi wasalam) lagi. Baginda menghadapinya secara wajar dan dapat menerimanya dengan dada terbuka. Mengapa kita sebagai Pendukung Sunnah tidak boleh berbuat demikian?
4. Kita tidak setuju dengan orang yang mewajibkan taqlid dan ta’ashshub sesuatu mazhab secara membuta tuli, sebagaimana kita juga tidak setuju dengan ulama yang digelar “semua boleh” karena sikap tersebut berarti tidak mensyukuri nikmat akal dan dapat mematikan minda serta mempersenda guraukan hukum Allah dan hukum Rasul (sallallahu alaihi wasalam).
5. Sikap yang paling baik ialah memberi beberapa pandangan dengan hujjahnya masin-masing. Kemudian buatkanlah kesimpulan mana pandangan yang lebih RAAJIH (lebih kuat). Inilah tugas pendakwah. Bukan memaksakan satu pandangan saja yang mesti diikuti.
6. Kita mestilah mengakui bahwa di antara fitrah semulajadi manusia ialah tidak suka dipersalahkan. Oleh itu kita mestilah berhati-hati dalam menegor. Kita mesti ingat “sunnah tadarruj” walaupun ia menyangkut perkara bid’ah.Jangan sampai pendakwah membuat bid’ah yang lebih besardari bid’ah orang yang ditegor. Dalam hal ini pendakwah mesti memahami kaedah: “Irtikaab Akhaffudh Dhararain” iaitu mengambil mana yang lebih ringan mudharatnya.
7. Masyarakat kita pada akhir-akhir ini sudah mula dapat menerima Sunnah dan beransur-ansur meninggalkan adat istiadat yang bercanggah dan bid’ah. Ini berkat kesabaran para pendakwah yang faham dengan Sunnah Tadarruj. Oleh itu para jemaah tolong jangan “kacau daun” sehingga usaha yang dibuat selama ini menjadi mentah kembali.
8. Jangan cepat menuduh: Ulama itu jahil, ulama itu tidak betul, ulama menyembunyikan kebenaran, dan sebagainya.Besar kemungkinan apa yang baru anda ketahui hari ini,sudahpun mereka ketahui puluhan tahun yang lalu. Tetapi karena ilmu mereka yang syumul (menyeluruh) merangkumi semua aspek agama, dan dapat memahami sunnah tadarruj dalam menyampaikan kebenaran, lagi pula ada sumber lain boleh meragukan pandangannya, maka mereka akhirnya mengambil sikap lebih baik perkara itu tidak dibangkitkan terlebih dahulu karena akidah umat masih belum begitu kokoh. Sungguh tepat sabda baginda:
“Cukuplah seseorang itu digolongkan sebagai pembohong, jika ia memperkatakan semua apa yang dia pernah dengar”.
[Hadis Sahih Riwayat Imam Muslim]
Jadi siapakah yang jahil sebenarnya? Mereka atau kita?
9. Rifq (lemah lembut) jangan disinonimkan (disamakan) dengan “tidak mempunyai pendirian”, sebagaimana tasyaddud dan ghuluw jangan pula disamakan dengan Istiqamah (teguh pendirian).
10. Perlakuan manusia adalah hasil dorongan hatinya. Kalau begitu, bukankah cara yang paling tepat untuk merobah perlakuan manusia, kalau hati nuraninya dan mindanya yang perlu kita rebut dan perbetulkan? Jadi melalui pendidikan dan pendedahan kebenaran secara tadarruj (step by step) akan muncullah generasi berilmu yang bukan saja akan memihak kepada kebenaran, malahan akan ISTIQAMAH membela kebenaran.
11. Rasulullah (sallallahu alaihi wasalam) bersabda:
“Sesungguhnya di dalam tubuh manusia ada seketul daging. Jika ia baik maka baiklah seluruh tubuh, dan jika ia rosak maka rosaklah seluruh tubuh. Ketahuilah bahwa dialah HATI”.
[HR Bukhari]
“Perlahan-perlahan (beransur-ansur) adalah daripada Allah SWT dan tergesa-gesa (gopoh) adalah daripada syaitan”.
[Hadis Hasan Riwayat Ibnu Abi Syaibah]
12. Semoga dengan pendedahan ini para jamaah yang terlalu bergairah “ikut sunnah” dapat berfikir sejenak apakah cara mereka selama ini ikut sunnah atau justeru bercanggah dengan sunnah. Apakah caranya selama ini turut menolong menyuburkan pertumbuhan sunnah di rantau ini atau justeru sebaliknya membuat masyarakat benci dan lari dari Sunnah?
13. Untuk mendapatkan hasil dakwah yang berkesan dan tidak menimbulkan keresahan masyarakat, para pendakwah jangan hanya terikat pada Fiqhul Ibadah, tetapi mestilah juga mendalami Fiqhus Siirah dan Fiqhud Da’wah. Sebab hanya dengan demikian kita (Insya Allah) dapat menyelesaikan semua masalah dengan lebih berkesan sebagaimana dikatakan dalam pepatah: “Rambut tak putus, tepung tak tumpah”.
14. Dengan pendedahan ini juga diharapkan masyarakat dapat menyadari bahwa aliran dakwah yang dibawa oleh pendakwah-pendakwah di bawah Islamic Counsellor Kedutaan Arab Saudi di Kuala Lumpur bukanlah dakwah yang keras tidak menentu tetapi bersifat mendidik dan memperluas minda. Shalaabah (tegas) dalam perkara ushul (prinsip), dan akan bersikap Muruunah (flexible) dalam perbedaan pendapat tentang perkara furu’ (cabang).
15. Pengikut Sunnah yang Ekstrim barangkali akan menuduh sikap di atas adalah tidak sunnah karena tidak tegas. Kepada mereka dinasehatkan bahwa Nabi Muhammad (sallallahu alaihi wasalam) tidak tegas dan keras dalam semua hal. Malah beliau sentiasa menekankan umatnya agar I’tidal (sederhana) dalam semua hal. I’tidal dengan pengertian meletakkan sesuatu pada tempatnya, bukan tatharruf (mengabaikan tuntutan) dan bukan pula Ithraaf (melampaui batas tuntutan).
16. Semoga kita tidak termasuk ke dalam golongan yang pernah dikatakan oleh para ulama: ISTIGHFAAR yang masih berhajat kepada ISTIGHFAAR.
Rujukan:
Nahwa Da’wah Islamiyah Rasyidah - Dr. Mohd A. Kadir Hanadi
Iqtidhaus Siratil Mustaqim - Ibnu Taimiyah
Riyadhush Shaalihin - Imam An-Nawawy
Fiqhus Siirah - Mohd Al-Ghazaly
Fiqhud Dakwah - Dr. Mohd Natsir
Tadzkiratud Du’aah - Al-Bahy Al-Khauly
Ibaahatut Thahally Bizzahab Al-Muhallaq Lin Nisaa Warrad ‘Alaa Al-Albaany Fii Tahriimihi - Syekh Ismail Al-Anshary
(رواه مسلم)
٢) قَالَ رَسُوْلُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِى الدِّيْنِ، فإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ قَبْلِكُمْ بِالْغُلُوِّ فِى الدِّيْنِ
(رواه ابن ماجه)
٣)عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِى اللهُ عَنْهُ عَن النَّبىِّ صَلَّى الله عَلَيْهَ وَسَلَّمَ قَالَ: إِنَّ الدِّيْنَ يُسْرٌ، وَلَنْ يُشَادَّ الدِّيْنَ اَحَدٌ إِلاَّ غَلَبَهُ، فَسَدِّدُوْا وَقَارِبُوْا، وَأَبْشِرُوْا، وَاسْتَعِيْنُوْا، بِالْغُدْوَةِ وَالرَّوْحَةِ وَشَيْءٍ مِنَ الدُّلَجَةِ. (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ) وَفِي لَفْظٍ: وَالْقَصْدُ الْقَصْدُ تَبْلُغُوْا
(رواه البخاري)
Terjemahan:
1. Daripada Abdullah Bin Mas’ud (ra) katanya: Telah bersabda Rasulullah (sallallahu alaihi wasalam): Binasalah orang yang tanaththu’ (3x).
[Hadis Sahih Riwayat Imam Muslim]
2. Rasulullah (sallallahu alaihi wasalam) bersabda: Jauhilah olehmu daripada ghuluw dalam beragama, karena binasanya orang-orang sebelum kamu (Ahlul Kitab) adalah disebabkan sikap ghuluw mereka dalam beragama.
[Hadis Riwayat Ibnu Majah dengan sanad Sahih]
3. Daripada Abi Hurairah (ra) katanya: Telah bersabda Rasul (sallallahu alaihi wasalam): sesungguhnya agama (Islam) itu mudah, dan tidaklah sama sekali seseorang yang tasyaddud dalam beragama melainkan pasti agama itu akan mengalahkannya, oleh sebab itu hendaklah kamu menepatinya dan menghampirinya dan bergembiralah (dengan berita itu). Dan mohon pertolonganlah kamu dengan waktu pagi dan petang dan sedikit daripada waktu malam. (Dan dalam lafaz yang lain pula): Hendaklah kamu bersikap sederhana, hendaklah kamu bersikap sederhana, niscaya kamu akan sampai (kepada tujuan yang selamat).
[Hadis Riwayat Imam Bukhari]
Mukaddimah:
Iblis sangat benci kepada manusia yang suka mendalami ilmu-ilmu agama atau Tafaqquh Fid Diin. Malahan Iblis atau syaitan sangat takut kepada mereka. Sebaliknya Iblis sangat suka kepada orang-orang jahil walaupun ia banyak beribadat dan kelihatannya taat kepada Allah. Tetapi jangan disangka Iblis berhenti menggoda orang yang berilmu. Dengan sifat Khannaasnya (datang dan pergi dengan pantas), Iblis akan terus berusaha menyelewengkan manusia yang berilmu dan kuat beragama daripada jalan Allah yang lurus (Shirathal Mustaqim). Bagaimana cara Iblis memesongkan orang-orang yang kuat beragama? Di antara caranya ialah dengan mendorong mereka supaya bersikap GHULUW atau TANATHTHU’ atau TASYADDUD.
Di dalam hadis di atas baginda Rasulullah (sallallahu alaihi wasalam) telah melarang kita daripada memiliki sikap tersebut karena sikap itu bukan saja boleh membinasakan diri yang bersangkutan, tetapi juga boleh merosak image Islam yang indah di mata muslimin yang masih lemah imannya sehingga mereka merasa keberatan dengan ajarannya atau di mata non-muslim sehingga mereka takut memeluk Islam. Padahal Rasulullah (sallallahu alaihi wasalam) dalam hadisnya yang lain bersabda: “Permudahkanlah dan janganlah kamu mempersulit”. [HR Bukhari]
Larangan di atas bukan hanya tercantum di dalam hadis-hadis Nabi (sallallahu alaihi wasalam) tetapi juga banyak terdapat di dalam Al-Quran. Lihat An-Nisaa :171 dan Al-Maidah :77.
Makna GHULUW, TANATHTHU’. TASYADDUD:
Ketiga-tiga istilah di atas hampir sama maknanya iaitu:
Berlebih-lebihan atau melampaui batas-batas yang telah ditetapkan oleh syare’ah (agama).
Uraian Hadis:
Hadis (1):
Imam Ibnu Taimiyah di dalam kitabnya: Iqtidhaaus Shirathal Mustaqim I/288-289 menyebut: Larangan ghuluw dalam urusan agama adalah menyeluruh dalam semua bidang ajarannya, apakah yang bersangkutan dengan akidah ataupun amalan.
Hadis (2):
Imam An-Nawawy dalam kitabnya: Riyadhus Shaalihin m/s 78, berkata: Al-Muthanaththi’un ialah orang-orang yang terlalu mendalam-dalami dan memberat-beratkan urusan agamanya pada tempat-tempat yang sebenarnya tidaklah berat.
Hadis (3):
Imam An-Nawawy dalam kitabnya yang sama m/s 78 berkata: Mutasyaddid akan dikalahkan oleh agamanya. Maksudnya orang berkenaan akhirnya tidak terdaya untuk menjalankan kehendak agamanya karena tuntutannya yang terlalu banyak. Oleh itu Nabi (sallallahu alaihi wasalam) menyuruh kita agar memanfaatkan masa pagi, sore dan sedikit waktu malam untuk beribadah karena pada waktu-waktu itulah badan segar beribadah dan tidak membosankan. Perjalanan manusia menuju akhirat tidak obahnya bagaikan musafir yang sedang menuju ke suatu destinasi. Dia tidak sepatutnya gopoh-gapah tidak menentu karena ingin cepat sampai. Dia akan rehat jika penat dan meneruskan perjalanannya lagi jika badan sudah segar. Dengan cara demikian ia akan sampai ke matlamat yang dituju dengan selamat.
Dalam kitab Dalilul Faalihin I/384 dikatakan pula: Maksud hadis ini agar jangan ada di antara kita yang terlalu mendalam-dalami dan memberat-beratkan amalan-amalan agama dan meninggalkan kesederhanaan dan tidak bersikap lemah-lembut, karena jika itu terjadi niscaya kelak dia akan meninggalkan keseluruhan amalan agamanya atau sebahagian daripadanya. Atau dengan makna lain: Hendaklah kamu bersikap sederhana atau tawashshuth (pertengahan) tanpa ifrath dan tafrith.
Gejala-gejalanya:
Ekoran daripada memiliki sikap di atas maka muncullah pada diri muslim-muslimat berkenaan beberapa gejala kurang sehat yang nyata dapat kita lihat, di antaranya:
Sikap fanatik (ta’ashshub) dengan suatu pandangan dan tidak mahu i’tiraf atau menghormati pandangan orang lain. Orang jenis ini selalu berkata: Adalah hak aku untuk mengatakannya, dan kewajipan kamu hanya mendengar. Adalah hak aku untuk memimpin, dan tugas kamu mengikuti saja. Pandangankulah yang benar dan tidak mungkin salah. Pandangan kamu salah dan tidak mungkin benar.
Sentiasa gemar memilih perkara yang berat-berat dan menyuruh orang lain agar berbuat demikian, walaupun ia mengetahui ada dalil-dalil yang meringankannya. Nabi (sallallahu alaihi wasalam) bersabda: “Permudahkanlah dan jangan mempersulitkan”.
Bersikap keras dan kasar dalam uslub dan ucapan. Orang jenis ini tidak pernah mengenal istilah tolak ansur dan kompromi dalam semua hal. Padahal dalam Islam kita tidak boleh kompromi hanya dalam akidah bukan dalam bab amalan. Hikmah dan lemah lembut sangat dituntut dalam segala hal. Nabi (sallallahu alaihi wasalam) bersabda: “Sesungguhnya Allah itu Rafiq, (Dia) menyuqai RIFQ (lemah lembut) dalam segala urusan”. [Hadis Sahih Riwayat Imam Bukhari]
Mudah berburuk sangka dan menuduh orang lain tanpa bukti atau sebab yang munasabah. Tidak suka menerima keuzuran atau alasan, bahkan gemar mencari-cari kesalahan orang lain. Padahal sebahagian Salafus Saleh berkata: Aku akan menerima keuzuran daripada saudaraku walaupun sampai 70 kali: Kemudian akku akan bertanya: “Barangkali dia masih ada keuzuran lain yang aku tidak mengetahuinya”. Sungguh tepat firman Allah:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah olehmu dari kebanyakan prasangka, sesungguhnya sebahagian prasangka itu adalah dosa”.
(Al-Hujurat 49:12)
Sebab-sebabnya:
Kalaulah demikian bentuk dan gejala ghuluw – thanaththu’ dan tasyaddud, maka apakah yang menjadi punca penyebabnya?
1. Jahil tentang agama:
Yang dimaksudkan dengan jahil tentang agama di sini dapat dilihat daripada beberapa sudut, antaranya:
(a) Kedangkalan ilmunya dalam memahami “maqashid syari’ah” (maksud agama) yang berkaitan dengan konsep taiysir (kemudahan) dan raf’ul haraj (tidak menyusahkan) ke atas orang mukallaf.
(b) Kejahilannya tentang batas-batas syare’ah yang wajib dipatuhi oleh setiap mukallaf dan tidak boleh dilampaui sehingga akhirnya yang sunat dirobahnya menjadi wajib dan yang makruh menjadi haram.
(c) Tidak tepat dalam memahami mashusuh (dalil-dalil) syare’ah, karena ia melihat hanya sebahagian nash-nash Al-Quran dan As-Sunnah tetapi melupakan bahagian-bahagiannya yang lain.
Imam Asy-Syaathiby dalam kitabnya Al-I’tishaam I/244 berkata: Penyebab ghuluw yang utama dalam kontek ini hanya satu iaitu jahil dengan maqashidusysyara’ (maqsud agama) dan tidak mampu menghubungkaitkan antara satu aspek agama dengan aspeknya yang lain. Imam-imam Rashikin (Ulama yang betul-betul pakar dalam bidang agama) melihat syare’at sebagai suatu kesatuan yang berkaitan rapat antara kully dengan juz’iy, antara ‘aam dengan khas, antara mutlak dengan muqayyad.
2. Mengikut hawa nafsu:
Dan di antara penyebab ghuluw ialah karena terlalu mengikuti perasaan dan hawa nafsu. Allah SWT mencela sikap demikian dalam banyak ayat-ayat Al-Quran, antaranya:
بَلِ اتَّبَعَ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَهْوَاءهُم بِغَيْرِ عِلْمٍ
Tetapi orang-orang yang zalim mengikuti hawa nafsunya tanpa ilmu pengetahuan.
(Ar-Ruum 30:29)
Contoh-contohnya:
Supaya kita mendapat suatu gambaran yang jelas tentang sikap ghuluw atau tanaththu’ atau tasyaddud di atas maka berikut ini diberikan beberapa contoh, antaranya:
i. Golongan Khawarij. Mereka ghuluw dalam nushush wa’iid (janji siksa) tetapi ihmaal (mengabaikan) nushush wa’d (janji manis). Akhirnya mereka dengan mudah menghukumkan kafir setiap muslim yang melakukan dosa besar dan mereka akan kekal abadi di dalam neraka.
ii. Golongan Murji-ah. Mereka ghuluw dengan nushush wa’d tetapi ihmaal dengan nushush wa’iid. Oleh itu mereka mendakwa kononnya dosa besar yang dilakukan oleh muslim sedikitpun tidak merosakkan imannya.
iii. Golongan Syi’ah. Mereka ghuluw terhadap Saidina Ali (ra) sehingga tidak mengakui khalifah-khalifah Rasyidin yang lain. Mereka juga ghuluw dengan mendakwa Imam-imam mereka bersifat ma’shum (tidak pernah melakukan dosa).
iv. Segelintir Ahlus Sunnah Waljama’ah yang karena terlalu cinta kepada Rasulullah (sallallahu alaihi wasalam) sehingga mereka menyanjung baginda melampaui batas yang diizinkan oleh Allah SWT. Mereka ghuluw dalam hal Ta’zim (menyanjung) tetapi ihmaal dengan aspek Akidah (Tauhid). Lihat nota: Bukti Cinta Kepada Rasulullah (sallallahu alaihi wasalam).
v. Contoh lain: Ghuluw dalam da’wah tetapi ihmaal dengan tanggungjawab terhadap keluarga. Ghuluw dengan sesetengah hadis tetapi ihmaal dengan hadis-hadis yang lain seperti mengharamkan wanita memakai perhiasan emas (Lihat nota: Apakah hukumnya wanita memakai perhiasan emas?)
vi. Contoh lain: Ghuluw dalam ibadah, ihmaal dalam kemasyarakatan. Ghuluw dalam pakaian yang zahir, ihmaal dengan pensucian hati. Ghuluw dengan Fiqhul Ibadah, ihmaal dengan Fiqhud Da’qah dan Fiqhus Siirah.
Cara mengikis sifat tersebut:
1. Hendaklah kembali kepada ajaran Al-Quran dan As-Sunnah secara menyeluruh, bukan setengah-setengah.
2. Hendaklah juga memahami “Maqashidusysyara’ “ (maksud-maksud agama). Dengan memahaminya akan menolong kita mengambil hukum daripada dua sumber di atas dengan lebih tepat tanpa menggadaikan prinsip.
3. Selain Al-Quran dan As-Sunnah, kita juga mesti mengakui adanya sumber hukum tambahan yang telah disepakati iaitu IJMA’ ULAMA dan QIYAS sekiranya suatu hukum tidak wujud secara pasti di dalam Al-Quran dan As-Sunnah.
4. Inilah cara dakwah Rasulullah (sallallahu alaihi wasalam) dan para sahabat serta Salafus Saleh. Dan inilah juga perjalanan dakwah AHLUS SUNNAH WAL JAMAAH.
Nasihat:
1. Dalamilah selok-belok agama, apakah melalui bacaan atau mengikuti pengajian. Dan jika terdapat perbedaan pandangan pilihlah mana yang diyakini lebih baik dan lebih kuat dalilnya. (Lihat Nota: Ikut Mana Yang Lebih Baik).
2. Jika anda mengambil pandangan yang lebih kuat, itu tidak berarti anda telah mendapat lesen untuk menyalahkan orang lain secara melulu sebab barangkali mereka juga mempunyai dalil dan pandangan tersendiri. (Lihat Nota: Adab-adab perbedaan pandangan).
3. Perbedaan pandangan telah wujud sejak zaman Nabi (sallallahu alaihi wasalam) lagi. Baginda menghadapinya secara wajar dan dapat menerimanya dengan dada terbuka. Mengapa kita sebagai Pendukung Sunnah tidak boleh berbuat demikian?
4. Kita tidak setuju dengan orang yang mewajibkan taqlid dan ta’ashshub sesuatu mazhab secara membuta tuli, sebagaimana kita juga tidak setuju dengan ulama yang digelar “semua boleh” karena sikap tersebut berarti tidak mensyukuri nikmat akal dan dapat mematikan minda serta mempersenda guraukan hukum Allah dan hukum Rasul (sallallahu alaihi wasalam).
5. Sikap yang paling baik ialah memberi beberapa pandangan dengan hujjahnya masin-masing. Kemudian buatkanlah kesimpulan mana pandangan yang lebih RAAJIH (lebih kuat). Inilah tugas pendakwah. Bukan memaksakan satu pandangan saja yang mesti diikuti.
6. Kita mestilah mengakui bahwa di antara fitrah semulajadi manusia ialah tidak suka dipersalahkan. Oleh itu kita mestilah berhati-hati dalam menegor. Kita mesti ingat “sunnah tadarruj” walaupun ia menyangkut perkara bid’ah.Jangan sampai pendakwah membuat bid’ah yang lebih besardari bid’ah orang yang ditegor. Dalam hal ini pendakwah mesti memahami kaedah: “Irtikaab Akhaffudh Dhararain” iaitu mengambil mana yang lebih ringan mudharatnya.
7. Masyarakat kita pada akhir-akhir ini sudah mula dapat menerima Sunnah dan beransur-ansur meninggalkan adat istiadat yang bercanggah dan bid’ah. Ini berkat kesabaran para pendakwah yang faham dengan Sunnah Tadarruj. Oleh itu para jemaah tolong jangan “kacau daun” sehingga usaha yang dibuat selama ini menjadi mentah kembali.
8. Jangan cepat menuduh: Ulama itu jahil, ulama itu tidak betul, ulama menyembunyikan kebenaran, dan sebagainya.Besar kemungkinan apa yang baru anda ketahui hari ini,sudahpun mereka ketahui puluhan tahun yang lalu. Tetapi karena ilmu mereka yang syumul (menyeluruh) merangkumi semua aspek agama, dan dapat memahami sunnah tadarruj dalam menyampaikan kebenaran, lagi pula ada sumber lain boleh meragukan pandangannya, maka mereka akhirnya mengambil sikap lebih baik perkara itu tidak dibangkitkan terlebih dahulu karena akidah umat masih belum begitu kokoh. Sungguh tepat sabda baginda:
“Cukuplah seseorang itu digolongkan sebagai pembohong, jika ia memperkatakan semua apa yang dia pernah dengar”.
[Hadis Sahih Riwayat Imam Muslim]
Jadi siapakah yang jahil sebenarnya? Mereka atau kita?
9. Rifq (lemah lembut) jangan disinonimkan (disamakan) dengan “tidak mempunyai pendirian”, sebagaimana tasyaddud dan ghuluw jangan pula disamakan dengan Istiqamah (teguh pendirian).
10. Perlakuan manusia adalah hasil dorongan hatinya. Kalau begitu, bukankah cara yang paling tepat untuk merobah perlakuan manusia, kalau hati nuraninya dan mindanya yang perlu kita rebut dan perbetulkan? Jadi melalui pendidikan dan pendedahan kebenaran secara tadarruj (step by step) akan muncullah generasi berilmu yang bukan saja akan memihak kepada kebenaran, malahan akan ISTIQAMAH membela kebenaran.
11. Rasulullah (sallallahu alaihi wasalam) bersabda:
“Sesungguhnya di dalam tubuh manusia ada seketul daging. Jika ia baik maka baiklah seluruh tubuh, dan jika ia rosak maka rosaklah seluruh tubuh. Ketahuilah bahwa dialah HATI”.
[HR Bukhari]
“Perlahan-perlahan (beransur-ansur) adalah daripada Allah SWT dan tergesa-gesa (gopoh) adalah daripada syaitan”.
[Hadis Hasan Riwayat Ibnu Abi Syaibah]
12. Semoga dengan pendedahan ini para jamaah yang terlalu bergairah “ikut sunnah” dapat berfikir sejenak apakah cara mereka selama ini ikut sunnah atau justeru bercanggah dengan sunnah. Apakah caranya selama ini turut menolong menyuburkan pertumbuhan sunnah di rantau ini atau justeru sebaliknya membuat masyarakat benci dan lari dari Sunnah?
13. Untuk mendapatkan hasil dakwah yang berkesan dan tidak menimbulkan keresahan masyarakat, para pendakwah jangan hanya terikat pada Fiqhul Ibadah, tetapi mestilah juga mendalami Fiqhus Siirah dan Fiqhud Da’wah. Sebab hanya dengan demikian kita (Insya Allah) dapat menyelesaikan semua masalah dengan lebih berkesan sebagaimana dikatakan dalam pepatah: “Rambut tak putus, tepung tak tumpah”.
14. Dengan pendedahan ini juga diharapkan masyarakat dapat menyadari bahwa aliran dakwah yang dibawa oleh pendakwah-pendakwah di bawah Islamic Counsellor Kedutaan Arab Saudi di Kuala Lumpur bukanlah dakwah yang keras tidak menentu tetapi bersifat mendidik dan memperluas minda. Shalaabah (tegas) dalam perkara ushul (prinsip), dan akan bersikap Muruunah (flexible) dalam perbedaan pendapat tentang perkara furu’ (cabang).
15. Pengikut Sunnah yang Ekstrim barangkali akan menuduh sikap di atas adalah tidak sunnah karena tidak tegas. Kepada mereka dinasehatkan bahwa Nabi Muhammad (sallallahu alaihi wasalam) tidak tegas dan keras dalam semua hal. Malah beliau sentiasa menekankan umatnya agar I’tidal (sederhana) dalam semua hal. I’tidal dengan pengertian meletakkan sesuatu pada tempatnya, bukan tatharruf (mengabaikan tuntutan) dan bukan pula Ithraaf (melampaui batas tuntutan).
16. Semoga kita tidak termasuk ke dalam golongan yang pernah dikatakan oleh para ulama: ISTIGHFAAR yang masih berhajat kepada ISTIGHFAAR.
Rujukan:
Nahwa Da’wah Islamiyah Rasyidah - Dr. Mohd A. Kadir Hanadi
Iqtidhaus Siratil Mustaqim - Ibnu Taimiyah
Riyadhush Shaalihin - Imam An-Nawawy
Fiqhus Siirah - Mohd Al-Ghazaly
Fiqhud Dakwah - Dr. Mohd Natsir
Tadzkiratud Du’aah - Al-Bahy Al-Khauly
Ibaahatut Thahally Bizzahab Al-Muhallaq Lin Nisaa Warrad ‘Alaa Al-Albaany Fii Tahriimihi - Syekh Ismail Al-Anshary
Sunday, July 12, 2009
JANGAN JATUHKAN KERAJAAN PAS KELANTAN- DR. ASRI

AHAD, 12 JULAI 2009 | 19 REJAB 1430H
“Melihat kepada usaha-usaha islamisasi di Kelantan yang telah dan sedang dilakukan, maka saya berpendapat sebarang kegiatan untuk menjatuhkan Kerajaan Kelantan yang sedang ada amat tidak wajar dan menyanggahi ruh Islami seorang muslim, bahkan jiwa seorang insan biasa yang adil dalam penilaian pun.
Biarlah Kelantan dengan caranya, mereka muslim, mereka cuba memerintah dengan pendekatan yang tidak menyanggahi syariat, sebaliknya cuba memenuhinya. Usaha menjatuhkan Kelantan hanya menimbulkan salah faham mereka yang bersemangat Islam terhadap Kerajaan Pusat.”
Sunday, July 5, 2009
Pengunduran Tentera US di Iraq

Dunia Islam menyambut gembira berita pengunduran tentera Amerika Syarikat di bumi Iraq pada 30 Jun 2009 , walaupun ia masih di peringkat permulaan.
Pengunduran tentera AS seperti yang dipersetujui dalam perjanjian keselamatan AS-Iraq, menandakan satu langkah pertama ke arah pengunduran semua tentera negara tersebut dari Iraq menjelang 31 Disember 2011.
Kita bersama pejuang Islam lainnya juga turut berasa gembira serta mengambil kesempatan untuk mengucapkan tahniah kepada pejuang pembebasan serta mujahidin di Iraq.
Pengambilan alih kuasa oleh tentera Iraq membanggakan rakyat negara ini, namun masyarakat masih khuatir sekiranya tentera kerajaan tidak bersedia, di samping kebimbangan keganasan akan meningkat.
Menurut sumber AP, Masyarakat Syiah bimbang lebih banyak insiden pengeboman oleh pejuang Sunah akan dilancarkan, sementara Sunah khuatir tentera keselamatan Iraq yang didominasi Syiah tidak akan memberi perlindungan sepenuhnya kepada mereka. Hal ini sedikit sebanyak menggambarkan betapa kehadiran Amerika di bumi anbiya’ ini telah berjaya mengindoktrinisasi masyarakat bahawa hanya Amerika mampu menghapus pengganas dengan menidakkan faktor sebenar gejala dan fenomena keganasan berlaku sebenarnya.
Umat Islam harus bersyukur dengan kemenangan pertama ini disamping berusaha mengekalkan kemerdekaan serta mengisi kemenangan agar selaras dengan erti kemenangan konsep istiqlal dan hurriyyah menurut aspirasi Islam yang sebenarnya.
Kita sedar pengunduran Amerika adalah berpunca dari pelbagai faktor dan diantaranya adalah berdasarkan faktor material. Kejatuhan ekonomi Amerika yang terlalu buruk sepenggal yang lalu hingga kini menunjukkan bahawa Amerika Syarikat tidak sanggup lagi menanggung hutang dan bebanan peperangan walaupun industri persenjataan adalah pemberi keuntungan major dalam negara mereka.
Faktor desakan rakyat juga semakin menjadi-jadi malah wabak selsema babi yang menular di Mexico, Amerika Syarikat serta Amerika Utara menghilangkan sebahagian ‘mood’ Amerika untuk meneruskan invensi dan pengaliran duit keluar. Senario ini sama seperti keadaan Belanda dan British yang akur memberi kemerdekaan kepada Asia Tenggara akibat hutang maksimum selepas Perang Dunia Kedua.
Obama yang kelihatannya berminat dalam hubungan diplomasi positif dengan dunia Islam termasuk Malaysia kini, harus mengotakan janji awalnya untuk mengurangkan jurang pemikiran dan ketegangan diplomasi dunia selepas kempen anti Islam oleh regim Bush.
Dalam setiap pengunduran tentera Amerika Syarikat atau regim komunis lain, mereka pastinya meninggalkan untuk mewarisi regim yang menurut acuan pemikiran mereka. Di sinilah kepentingan mujahidin untuk terus sabar dalam membina semula negara menurut dimensi dan metodologi yang lain serta kena dengan persekitaran (waqi’) yang baru
Friday, July 3, 2009
Fathi Yakan : “A Man After My Own Heart was Osama Bin Laden”

A Man After My Own Heart”… Ia bukan ayat penulis, ia adalah ayat Fathi Yakan apabila di tanya oleh wartawan FrontPageMag.com berkenaan dengan musuh no 1 Amerika dan dunia barat, Osama Bin Laden. Ia bagi mengulas hubungannya dengan Dr. Fathi Yakan. Itulah keberaniannya, tidak ramai pemimpin negara Islam yang sanggup mengaku hubungan dengan musuh No. 1 Amerika.
Itulah gambaran hubungannya dunia Islam dengan Fathi Yakan. Siapa yang tidak ditemuinya, Amerika Syarikat yang mempunyai segala kelengkapan canggih tidak mampu menemui Osama Bin Laden, tapi bagi Dr. Fathi Yakan ia rakan yang biasa ditemuinya. (Klik di sini)
Pemergiannya suatu kehilangan yang amat besar khususnya di Lubnan. Beliau adalah antara pengasas gerakan Islam di Lubnan, pernah menjawat Jawatan Setiausaha Jamaat Islam Fil Lubenan, ahli parlimen Lubnan (1996) dan merupakan “nakib” usrah dan gerakan dakwah seluruh dunia Islam.
Beliau telah menulis pelbagai buku melebihi 35 buah buku yang telah diterjemahkan ke pelbagai bahasa. Bukunya yang paling dikenali “Mengapa Saya Menganut Islam” atau dalam versi arabicnya ‘Maza Yakni Intima’i Lil Islam’ menjadi silibus asas mana-mana gerakan Islam samada di Kaherah hinggalah ke Malaysia. Bahasanya mudah difahami, lancar di lidah dan lancar di minda.
Dialah yang menegur pada para pendokong gerakan Islamiyyah melalui bukunya “Golongan yg tercicir di jalan dakwah” atau ‘Almutasaqitun ‘ala toriqidda’wah’. Buku ini begitu dalam maknanya kepada penulis.
Friday, June 12, 2009
Melihat makna Kerajaan Perpaduan yang dimaksudkan oleh PAS

PENJELASAN ISU SEMASA YANG PANAS ....
Oleh Al Fadhil Tuan Guru Dato' Tuan Ibrahim Tuan Man
Muktamar PAS ke 55 baru berakhir, kenikmatan berjamaah masih terasa, bagaimana pertemuan para pejuang Islam di satukan sebentar dalam muktamar indah bagi yang tidak pernah menjadi matlamat menyertai PAS.
Amanah besar yang sangat ana bimbangi, dan terus terang siang malam ana berdoa agar ana tidak dibebani dengan am,anah besar ini, setelah ana tidak upaya menolak pencalunan yang besar dari perwakilan.
Kini ana sering munajat doa sebagaimana yang pernah diungkapkan oleh Saidina Umar “ Ya Allah, Engkau telah bebankan aku dengan bebanan yang berat di dunia, maka ringankanlah bebananku di akhirat.”Muktamar telah berlalu, kepimpinan telah dipilih. Marilah kita menyatukan saf perjuangan bagi menghadapi musuh kita yang satu.
Muktamar bagi menyatakan pandangan dan kritikan, kita telah lalui, penjelasan dari pimpinan telah pun di buat, mungkin ada yang berpuas hati, dan mungkin ada yang belum berpuas hati dengan jawapan; bahkan pemilihan pun mungkin ada yang sedih dan ada yang gembira.
Terkadang penyokong lebih bersedih daripada yang bertanding. Namun Islam mengajar kita agar menerima keputusan dengan dada yang terbuka, jamaah telah buat keputusan. Rasulullah bersabda “ Umatku tidak akan sepakat dalam perkara kesalahan’, dan “ Pertolongan Allah akan datang dengan jamaah”.
Selepas muktamar media masih memainkan isu yang dijangka boleh memecahkan kita, kita harus faham sepak terajang media musush, adalah malang kalau kita yang tahu media musuh, tetapi masih percaya kepada berita yang disebarkan oleh musuh.
Seluruh ahli dan pimpinan PAS mesti menjadikan HARAKAH sebagai media rasmi parti. Sebarang isu yang berbangkit, mestilah dirujuk kepada kenyataan rasmi pimpinan dalam harakah. Agar kita tidak terjerumus dalam perangkap yang dimainkan oleh musuh.
Kita punya tanggungjawab sebagai gerakan dakwah bagi menyelamatkan rakyat dari kemurkaan Allah, ruang dakwah menyebabkan kita mesti menarik mereka kepada Islam, kita tidak seharusnya menutupi ruang dakwah ini.
Kita mempunyai penyokong yang berjuta orang, tetapi sebahagian mereka hanya menjadi pemerhati kepada perjuangan, kita mesti menarik mereka, agar bersama dalam perjuangan Islam. Kita juga mesti membetulkan system yang berjalan dalam Negara.
UMNO mampu mempertahankan kejayaan kerana system yang tidak betul ini ujud. Kita berusaha kea rah tersebut. Namun saya tegaskan bahawa kita tidak akan biarkan jamaah kita menjadi kuda tunggangan UMNO/BN. Kita punyai masa depan gemilang dalam Pakatan Rakyat, kita diterima oleh bukan Islam untuk bersama dengan PAS bukan parti lain.
Ini keyakinan yang perlu kita bina. Kita mestilah mampu mengambil alih kepimpinan melayu dari UMNO dan membawa mereka kepada landasan Islam. Perjuangan kita bukan sekadar menyelamatkan mereka di dunia, tetapi lebih jauh nasib mereka di akhirat; bilamana mereka bertahun-tahun meredai kemungkaran tajaan UMNO/BN samada secara sedar atau tidak.. Negara dipimpin oleh pimpinan yang korup, kita perlu menggantikan dengan kepimpnan yang soleh dan bertaqwa.
Yakinlah para pimpinan mengenali siapa UMNO lebih dari kita. Pimpinan kita meyedari tipu helah UMNO dalam perjuangan mereka yang lama dari kita. Adalah malang seandainya ahli merasa ragu-ragu dengan Presiden dan Timbalan Presiden.
Semua dasar parti di kawal oleh syura, dan semua perkara pokok akan diputus dalam mesyuarat Jawatankuasa Pusat. Andai ada yang cuba membawa jamaah kearah bertentangan, yakinlah mereka tidak akan dapat bertahan lama dalam jamaah, samada jamaah akan meyingkirkannya atau Allah akan mengeluarkan mereka dari jamaah ini-insyaAllah.
Berilah keyakinan dan wala’ pada pimpinan, dan awasilah perangkap musuh yang ada dikeliling kita , dan jangan kita menjadi juru cakap musuh dalam jamaah bagi melihat berpecahkan jamaah ini.
Tingkatkanlah hubungan dengan Allah, jadilah sirah Rasulullah s.a.w sebagai asas dalam perjuangan ini dan bersabarlah di atas perbezaan pandangan, dan hargailah pandangan yang berbeza yang lahir dari hati yang ikhlas. Rapatilah saf perjuangan, dan gunalah sedikit masa tengah malam dan awal pagi untuk memohon kekuatan dari Allah.
KERAJAAN PERPADUAN
Bilamana Presiden mengutarakan gagasan kerajaan perpaduan, ramai di kalangan kita membuat pelbagai tafsiran dan andaian. Ada pandangan terkeluar dari akhlak jamaah dan sebahagian besarnya masih dalam batas berjamaah. Kesemua permasalahan ini berpunca dari tiada satu penjelasan lengkap dikeluarkan.
Idea yang dilontar oleh pimpinan tentulah berpijak dari dasar syarak dan jauh daripada tindakan merugikan parti atau gabungan pakatan Rakyat. PAS tidak akan mengkhianati Pakatan kita, bahkan kita akan perkukuhkan gabungan ini menjadi alternative bagi rakyat. Sebagai ahli parti, kita mesti menerima idea dan gagasan ini dengan baik sangka kepada presiden disamping mengikuti penjelasan daripadanya.
Idea ini dilontar diperingkat awal untuk menjadi bahan renungan semua pihak. Satu lontaran idea dan gagasan besar yang tidak seharusnya berlalu tanpa diadakan wacana ilmiah bagi membincangkannya. Saya suka jelaskan bahawa YB Dato’ Sri Presiden akan membuat dan memperhalusi gagasan ini dalam masa terdekat dan satu wacana kepimpinan akan diadakan.
Namun bagi mengurangkan sedikit polemik yang sengaja dibesarkan oleh media arus perdana, saya suka menggambarkan beberapa prinsip yang ujud dalam gagasan ini. Antara asas utama dalam kerajaan perpaduan ini ialah bertolak kepada firman Allah “ dan bertolong bantulah kamu dalam perkara kebaikan dan taqwa, dan jangan bertolong Bantu dalam perkara dosa dan permusuhan”.
Asas pertama ialah At Taawun
Konsep taawun yang melahirkan muafakat yang disaran oleh Allah menjadi asas dalam pembinaan Negara perpaduan. Kita mesti membina Negara berasaskan kepada al-bir( Kebaikan ) yang meliputi semua elemen kebaikan bagi rakyat.
Kita mesti menyedari pembinaan Negara perpaduan tidak akan lahir dari sistem yang kelam kabut, rasuah dan penyelewengan, pimpinan yang tidak berakhlak, sistem yang penuh dengan kezaliman, dan akta yang digunakan bagi menindas rakyat.
Apakah al-bir dari sistem begini. Kita mesti letakkan asas al-bir ini untuk kepentingan rakyat tanpa mengira bangsa dan agama. Asas ini dittuntut oleh Allah, apakah ada diantara kita yang tidak inginkan kebaikan?
Asas kedua ialah taqwa.
Negara mestilah menjurus ke arah melahirkan pimpinan yang bertaqwa, agar rakyat yang kita urus bukan hanya selamat melalui al-bir ( kebaikan sistem Negara ) tetapi mestilah ujud elemen taqwa.
Pemimpin mestilah bertaqwa kepada Allah. Asas al bir bersifat umum, tetapi asas taqwa bersifat khusus bagi pimpinan yang ingin menerajui kepimpinan Negara perpaduan. Semua parti politik yang pimpinannya terdiri dari mereka yang menerima Allah sebagai Tuhan dan Nabi Muhammad sebagai Rasul hendaklah sedar bahawa kehidupannya tidak berakhir di dunia. Bagaimana kita ingin melahirkan rakyat yang baik, seandainya kita sendiri bergelumang dengan dosa dan maksiat.
Kepimpinan gagal menjadi model bagi rakyat, isteri pimpinan menjadi elemen yang meruntuhkan akhlak dan jati diri bangsa. Hidup tanpa batasan agama dan kawalan wahyu. Negara yang baik lahir dari kepimpinan yang baik, dan taqwa adalah asas bagi semua kebaikan. Rakyat mestilah menyedari betapa Negara kini sangat-sangat memerlukan pemimpin yang bertaqwa bagi memandu Negara.
Kami menawarkan asas yang Allah menyuruh kita berpegang; apakah ada panduan yang lebih baik dari panduan Ilahi?. Apakah parti-parti politik bersedia kearah itu, dan seandainya tidak bersedia apakah alasan dihadapan Allah nanti di akhirat bila Allah meminta kita menjelaskan kenapa dan mengapa.
Asas ketiga ialah menolak al Ism (Ideologi ciptaan manusia)
Kita menyatakan bahawa kita tidak akan berkompromi dalam pembentukan kerajaan ini sabuah kerjasama kearah durhaka kepada Allah. Konsep al-ism yang sangat luas menjadi sempadan pembinaan kerajaan perpaduan. Kita sebagai pimpinan mesti berusaha agar rakyat tidak terdedah kepada dosa dan maksiat.
Kita perlu membina Negara yang soleh melalui pemimpin dan rakyat yang soleh. Kita mesti meletakkan asas utama agar semua elemen yang mendatrangkan dosa bagi rakyat dihapuskan; kerana kebaikan tidak akan lahir dari maksiat dan munkar.
Setelah lebih lima puluh tahun negara merdeka, pelbagai sistem yang mendedahkan dosa dipaksakan ke atas rakyat. Amalan riba yang berterusan, pusat-pusat meksiat diberi ruang yang luas oleh pemerentah, program maksiat mendapat tempat di hati rakyat sehingga lahirlah pelbagai gejala social, jenayah dan penyelewengan.
Akibat Negara yang tidak diasas kepada benteng kawalan yang menjadi syarat utama kebaikan bagi rakyat. Inilah syarat kami bahawa kami tidak akan berkompromi dengan perkara dosa dan durhaka kepada Allah yang diizinkan oleh pemimpin Negara perpaduan. Apa makna perpaduan, kelau untuk durhaka kepada Allah, kerana tiada makna kemajuan dan perpaduan kalau ia dibentuk kea rah maksiat dan dosa.
Asas keempat ialah menolak al U'dwan
Sebagaimana yang dinyatakan oleh Allah ialah kami tidak akan berkerjasama kearah permusuhan. Kita mesti menghentikan sebarang elemen perkauman sempit yang mendorong ujudnya jurang antara kaum di Negara ini.
Kecintaan kepada bangsa sendiri adalah fitrah manusia. Islam tidak menghalang setiap kaum menyintai kaumnya, tetapi Islam menentang tindakan zalim kepada kaum lain. Kerana kaum, bangsa dan warna kulit adalah ketentuan Allah, bukan pilihan manusia.
Kerajaan Perpaduan tidak akan mengizinkan sebarang elemen kearah permusuhan, samada di kalangan kaum melayu, cina, India dan lain-lain. Pertembungan antara dalaman setiap keum akan merugikan Negara.
Kita tidak akan membiarkan permusuhan antara orang melayu sebagaimana kita tidak akan izinkan permusuhan sesama kaum India dan cina. Ini asas kita. Tindakan mengapi-api permusuhan, elemen gensterism dan kongsi gelap, gerakan anti perpaduan serta membiarkan jurang kaya dan miskin melampau, elemen penindasan dan kezaliman golongan kaya berpengaruh ke aras rakyat miskin dan tertindas akan menjurus ke arah permusuhan.
Saya ingin tegaskan bahawa inilah antara beberapa asas dalam kerajaan perpaduan. Andainya ada pihak yang menentangnya, apakah alasan kalau inilah yang digariskan oleh Allah dalam konsep al-taawun.
Taawun sebagai satu gagasan, bukan hanya terikat dengan taawun fardiyyah; tetapi satu gagasan besar yang hebat dari Allah. Di samping asas tersebut, terdapat beberapa asas lain yang akan dijelaskan kamudian.
Subscribe to:
Posts (Atom)
